Sticky

Though the pages are numbered
I can’t see where they lead.
For the end is a mystery no one can read
In the book of my life

The Book of My Life, Sting

Advertisements

Friend of a friend

Standard
IMG_6767
Pagi ini dunia kecil saya terasa jauh lebih sepi. 
Kemarin siang teman dari seorang teman dengan mengejutkan berpulang ke rumah sejatinya. Kabar yang seketika menggemparkan baik dunia maya maupun semesta kecil saya. Seluruh jalur komunikasi sepanjang hari menjadi luar biasa aktif, sibuk. 
Saya yang tadinya tidak begitu paham siapa dia, kemudian mencari tahu dengan rajin mengintip media sosial, mencari-cari wajahnya. Tak perlu menunggu lama, beberapa fotonya sudah terpampang dan terbagi di berbagai akun. Saya tak begitu kenal dengan temannya teman-teman ini, tapi wajahnya tidak terasa asing. Setelah mengamati beberapa berita, pahamlah saya. Ini adalah wajah yang sering saya lihat beredar, dan ternyata begitu banyak teman-teman saya yang hidupnya bersentuhan dengan si temannya teman-teman ini.
 
Semakin siang, semakin banyak kabar yang disampaikan, semakin lengkap kisahan seputar kepergiannya. Sore hari, saya yang sudah bosan dengan ruangan tertutup dan layar laptop, memindahkan diri ke pusat jagad, kantin. Saat itu sudah menjelang magrib, dan ternyata kegemparan masih terus berlanjut. Di pusat jagad ini kabar berseliweran dengan gegap gempitanya. Ada yang sedang sibuk bertanya-tanya siapa saja yang sudah berangkat ke rumah duka, sementara yang lainnya sedang bergerombol merencanakan akan berangkat melayat jam berapa, sambil menunggu kabar yang lainnya. Di media sosial melalui akun beberapa teman tersebarlah kabar untuk menggalang dana, membantu keluarga yang ditinggalkan. Semua berlangsung dengan cepat, dengan hebohnya. Semua ini hampir terasa seperti sedang mempersiapkan sebuah pesta. Mohon maaf, bukan bermaksud mengatakan kepergian ini sebuah kelegaan, tetapi gegar yang ditimbulkan begitulah teresapnya oleh saya. Jika saja tidak terdengar di sana-sini ungkapan keterkejutan, ketidakpercayaan, betapa mendadak dan cepatnya ia pergi, ketika beberapa orang yang baru saja bertemu dengannnya di hari-hari sebelumnya masih menyisakan banyak kisah yang belum selesai, janji yang belum sempat tertuntaskan, maka duka itu hampir tidak terlihat. Banyak yang merasa kehilangan, yang merasa betapa selama ini dalam denyut kerjanya, dalam persentuhan dan interaksinya temannya teman-teman ini sudah begitu banyak bersumbangsih pada banyak hidup setiap orang.
 
Sore itu saya pulang dengan membawa sepotong pikiran di kepala saya, temannya teman-teman ini pastilah seorang yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sebentuk kehidupan yang sebelumnya hanya saya saksikan dari jauh menjadi terasa sangat dekat teraba, saya bahkan hampir merasa mengenalnya dengan lebih personal, bukan lagi sebagai temannya teman-teman. Malam itu juga saya kirim secarik doa, semoga semesta menerimanya kembali dengan baik, dan seluruh hidup yang sudah pernah disentuhnya mendapat keberkahan.
 
Pagi ini pusat jagad terasa sungguh sepi, memang saya datang terlalu pagi. Kehidupan akan mulai berdenyut sibuk sekitar satu jam lagi. Di pojok saya duduk diam-diam menyeruput kopi panas, menyulut bahan bakar pagi. Herannya tempat yang memang sepi pagi ini terasa semakin sunyi, hampir khidmat. Beberapa orang berdatangan, salah satu teman mampir duduk semeja bersama. Dari mulutnya pagi ini terulang kembali kisahan yang sudah saya dengar sepanjang hari kemarin, kali ini bahkan terlalu personal. Sekarang seolah-olah seluruh hidup yang sudah pergi itu terpapar lengkap, terasa jauh lebih hangat dan saya merasa kurang pantas mendengarnya. Bukan karena tak mau mendengarkan, tetapi merasa tak pantas diajak berbagi, saya kurang kenal, itu saja. Tetapi sang teman sedang berduka, sedang bersedih, sedang mengingat sebagian besar kebaikan yang tersisa mengiringi kepergian sahabat yang baik. Dari mulutnya mengalir kisah-kisah tak henti tentang semua yang pernah dialami bersama. Mengharukan. Ini semacam ode atas hidup, dan saya yang tak pernah mengenalnya merasa terhormat, boleh menjadi saksi atas masa-masa yang membahagiakan, saksi atas kebaikan dan persentuhannya dengan hidup banyak teman, atas perjalanannya yang kaya. Saya mendengar duka, haru, kehilangan, tetapi juga menangkap rasa syukur atas masa bersama, menangkap ketakjuban atas perjalanan, menyerap setangkup rasa sayang yang menyertai kepergiannya. 
 
Berjalan menuju kelas pagi ini, saya turut bersyukur, ingin turut merayakan hidupnya. Maka sekali lagi saya lemparkan secarik permohonan yang sama seperti semalam, disertai rasa syukur, boleh mengenalnya lebih dekat, bahkan ketika dia sudah pergi. Saya bersyukur atas pernah hadirnya dia dalam hidup banyak teman. Saya berterima kasih atas bantuan dan kebaikan hatinya pada teman-teman saya. Saya merasa begitulah seharusnya setiap kepergian diresapi, sebagai sebuah perayaan atas hidup. Selayaknya setiap kepergian diantar dengan jutaan kisah yang menakjubkan atas perjalanan yang telah dituntaskan salam sepotong masa yang diberikan kepada kita. Semua ini saya tulis bukan dalam rangka ikut-ikutan sok berduka ataupun sok kenal. Saya hanya ingin kepergiannya ini ditandai, diingat sebagai berakhirnya sepotong waktu yang pernah dibagi bersama, dititipkan pada saya, kalian, kita semua yang dengan satu dan lain cara pernah sempat beririsan dalam jalan hidupnya. 
Saya percaya semesta menyediakan tempat yang lebih baik untuknya. 
Selamat jalan.

Amunisi dan sasaran tembak

Standard

IMG_4777

Sering kali kita sangat abai dengan yang namanya bahasa. Seperangkat aturan tata bahasa dan serangkaian kata yang ketika digabungkan menjadi alat pengantar maksud yang sangat canggih karena memiliki efek yang terkadang tak tertanggungkan, mampu meruntuhkan dunia dan bisa juga menjadi penyelamat sebentuk kehidupan. 

Aturan tata bahasa sifatnya baku, ada konsensus di dalamnya, sementara itu kekayaan kosa kata merupakan hasil koleksi bertahun-bertahun melalui berbagai macam cicipan teks. Kemampuan mengolah dan menggabungkan keduanya disertai bekal pengetahuan umum yang luas dan kemampuan meresap yang baik menjadikan si penutur memiliki amunisi mematikan yang dapat ia gunakan untuk mengantar maksud, harapannya tepat pada sasaran. Tentu saja ini belum cukup, si penutur harus pula mengantongi keterampilan menembakkan amunisinya, membidik di saat yang pas, pada tujuan yang tepat, dan ruang yang mengakomodir. Maka tertembaklah sang sasaran dengan telaknya, terhujani serangkaian kata penuh makna. 
 
Setiap orang yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk terpapar pada publik yang lebih luas sebaiknya menyadari hal-hal yang saya sebut di atas. Karena secara tak langsung ia memiliki kesempatan untuk menularkan sesuatu, pertama melalui perilaku tuturnya, kedua karena isi pesan yang disampaikan, dan yang ketiga adanya efek lanjutan yang mungkin tercetus, terinduksi, terjangkit karena ujarannya. Setiap orang yang memiliki kesempatan terpapar pada publik yang lebih luas sebaiknya sadar akan kekuatan tuturnya dan akibat yang mampu dijangkitinya. Ini bukan ajakan untuk kemudian bersama-sama menjadi takut, tetapi justru ajakan untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk kebaikan bersama. Bayangkan apa saja yang bisa dicapai melalui ujaran ketika ia menjadi amunisi yang disiapkan dengan baik, dilengkapi dengan keterampilan membidik.
 
Tetapi apakah cukup hanya berbekal itu saja supaya amunisi ini mampu mengenai sasarannya dengan telak? Tentu saja tidak. Amunisi yang disiapkan dengan baik, disertai dengan kemampuan membidik yang luar biasa tidak akan pernah mampu ‘membunuh’ sasaran dengan mematikan ketika tidak ditembakkan sepenuh hati. Maksudnya ketika ia tidak disampaikan dengan sepenuh hati, tidak tulus, atau tak jujur, tetapi dengan dipoles sana-sini, kurang jujur, banyak palsunya misalnya. Perlu dipahami, sasaran biasanya akan pasrah dalam lakonnya sebagai yang disasar ketika amunisi dengan tulusnya gegap gempita dilontarkan. 
Saya percaya ini sepenuhnya. Ketika salah satu sudah mengambil posisi sejatinya, unsur lainnya akan melengkapinya sebagai pasangan sejatinya. Misalnya amunisi, yang tentu saja berjodoh dengan sasaran tembak. 
 

*foto dicomot dari internet, maaf saya nggak tau punya siapa.

SALAH ASUH

Standard

Sore tadi setelah berbulan-bulan tidak menonton TV, saya dengan sengaja duduk di depan TV dan mulai sok asyik zapping alias berkelana dari satu channel ke channel lainnya. Dengan cepat saya menyesal. Karena kemudian saya cepat sekali menjadi teriritasi. Berita pertama yang mampir, agak menyita perhatian adalah cerita tentang seorang laki-laki yang menyelusup masuk ke ruang roda pesawat. Kabarnya ia ingin ke Jakarta karena punya misi khusus, yang entah apa saya gagal ingat. Singkatnya ia ikut berangkat dari Pekanbaru menuju Jakarta. Mukanya yang tanpa rasa bersalah benar-benar mengganggu saya. Ia tidak paham kalau yang dilakukan itu melanggar hukum, ilegal, dan ada alasannya mengapa hal tersebut dilarang.

Lebih jauh lagi, orang ini betul-betul tidak paham kalau apa yang dia lakukan membahayakan satu pesawat. Ia malah dengan bangga menyebut kalau ia tengah berjuang, dan yakin karena niatnya baik. Duh, niat saja tidak cukup. Kira-kira begitulah saya mulai mengomel di dalam kepala. Semua teroris juga yakin kalau niatnya baik, berjuang untuk kebaikan. Suara di dalam kepala saya mulai ikut sibuk membantah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Dan kemudian berharap dapat melakukan dialog imajiner dengan wajah yang tampil di layar TV. Pendek kata saya tiba-tiba jadi sibuk sendiri di dalam kepala. 

Orang ini mungkin adalah salah satu contoh dari banyak kasus yang kurang lebih serupa, melakukan suatu tindakan yang diyakini demi kebaikan, karena dilandasi niat yang baik, bertujuan mulia (duh, sayang saya betul-betul lupa apa tujuannya ke Jakarta), tetapi karena tidak berpengetahuan cukup, jadilah jalan ini yang dipilihnya. Andaikan saja ia orang yang ketika duduk di bangku sekolah mau menyimak dan memperhatikan dengan baik, dan kemudian mau belajar sedikit lebih serius, atau kemudian rajin membaca, atau banyak berdiskusi, pastilah ia akan terhindar dari ketololan semacam ini. Maaf, saya memang menyebutnya sebagai sebuah ketotolan. Terlalu banyak orang yang mati cuma karena kurang pengetahuan, kurang informasi, bukan karena tidak terpapar pada informasi tapi karena acuh dan malas mencari, menambah pengetahuan. Orang-orang semacam ini menjadi berbahaya (dan semakin tolol) karena menjadi ancaman bahaya bagi banyak orang lainnya. 

Berita selanjutnya semakin membuat suasana di dalam kepala saya menjadi panas. Tentang 2 tahanan usia sekolah yang melakukan protes di halaman penjara, karena tidak diijinkan mengikuti Ujian Nasional. Setelah bersabar menyimak beberapa menit, terungkaplah cerita, bahwa sebetulnya mereka sudah dikeluarkan dari sekolah karena mencuri barang-barang dari sekolah mereka sendiri. Nah, ini juga sebuah kasus yang bodoh. Kalau statusnya sudah bukan siswa, ya tentu saja tidak bisa didaftarkan untuk ikut UN dong, alias tak punya hak lagi, karena sudah dikeluarkan, dengan tidak hormat pula. Jadi apa yang perlu diprotes, apa yang perlu diperjuangkan dengan sedemikian gigihnya. Dan sayapun tak paham mengapa hal semacam ini layak dijadikan berita, seolah-olah sedang memperjuangkan hak yang pantas dituntut. Kemudian orang tua pun diwawancara, pihak sekolah pun diajak bicara. Betul-betul berlebihan dan menjadi tontonan yang tak pantas.

Setelahnya saya langsung merasa sedih, dan cepat beralih ke channel yang menayangkan acara kontes memasak. Percuma rasanya menghabiskan waktu menonton berita dalam negeri, karena akhirnya saya jadi sibuk mengomel sendiri di dalam kepala. Entah apa yang salah dari masyarakat ini. Kenapa rasanya akhir-akhir ini jauh lebih banyak orang-orang yang semakin bodoh, padahal cara dan ruang untuk menambah pengetahuan semakin banyak. Kenapa hanya sedikit yang menjadi luas dan semakin banyak yang menjadi semakin sempit. Apa sudah sebegitu buruknya pendidikan sehingga menghasilkan orang-orang semacam itu? Dan saya merasa bisa menjawab pertanyaan ini dengan sendirinya. Di dalam kepala saya melintas gambaran orang-orang yang berdebat berteriak-teriak sambil saling tuding di dalam ruang sidang DPR dan kejadian-kejadian semacamnya, melintas pula gambaran para tokoh yang bicara seenaknya di layar TV, berdebat berbusa-busa, bicara panjang lebar tanpa sesungguhnya mengatakan apapun. Saya jadi tambah sedih di tengah-tengah acara kontes memasak yang meriah itu, dan memutuskan berhenti saja menonton TV, lebih baik mandi, supaya kepala sedikit lebih bersih.

Di dalam hati saya menjadi semakin yakin, harus ada yang dilakukan, mungkin tidak dalam skala besar. Mungkin mulai dengan yang kecil dulu. Ada perlunya mendampingi pendidikan anak-anak di sekolah, ketika ternyata hasil dari kurikulum nasional yang diperdebatkan banyak pakar dan diurus ribuan orang itu hanya menyajikan contoh-contoh semacam yang tampil di layar TV. Ditambah lagi mendengar keluhan para orang tua muda (teman-teman seusia saya) tentang anak-anak mereka dan pendidikan di sekolahnya masing-masing. Padahal anak-anak ini bersekolah di sekolah-sekolah mahal, sekolah pilihan. Lalu bagaimana nasibnya anak-anak Indonesia yang bahkan terkadang sekolah, sering kali tidak, atau bahkan tak punya kesempatan sama sekali untuk bersekolah, karena kampungnya jauh dari mana-mana. Apa ada gunanya pada mereka dipaksakan belajar dengan standar kurikulum nasional, yang bicara tentang hal-hal ataupun benda-benda yang terasa jauh dari dunia lokalnya? 

Saya tahu tulisan kali ini benar-benar seperti sedang menceracau, tak terstruktur dengan baik. Mungkin karena sebetulnya kepala saya masih sesibuk tadi, dan sekarang emosi ikut bermain. Jadi sebaiknya saya berhenti dulu, sebelum tambah melantur. Kali lain saya akan menulis lebih baik. 

DUA DALAM DOA

Standard

IMG_0997

Doa malam dalam dua. Semoga segala tanda yang ditebar semesta tidak mematahkan derapmu. Semoga semua kejadian yang menimpamu hanya menjadi penanda berupa peristiwa, menjadi data dalam belajarmu. Semoga semua yang menyakitimu membuatmu mengenal batas rasa rela, menguatkanmu, memberimu selubung pelindung. Semoga semua yang menggoresmu akhirnya akan mengupasmu, menjadikanmu lebih bersinar. Semoga semua yang menghimpit dadamu menjadikan hatimu lebih lapang, membuatmu sanggup menerima apa adanya. Semoga semua yang dirasa tak sejalan denganmu justru membukakan banyak pintu kesempatan baru untukmu. Semoga semua luka hanya akan menjadi ornamen yang menghias perjalananmu, penanda akan pencapaianmu.

Semoga masa-masa sulit ini membuatmu mampu menemukan dirimu kembali, menjadikanmu tetap mampu berdiri tegap, bukan untuk menantang semesta, tetapi justru untuk kembali siap bergerak, berdenyut bersama.

Semoga semua yang telah lewat akan tetap tinggal di belakang, dan tidak berkejaran dengan masa di depanmu. Semoga semua keresahanmu tersampaikan dengan baik, terurai dengan lepas. Semoga semua kekhawatiranmu menjadi doa yang terjawab. Semoga segala sedihmu mengayakan batinmu, melembutkan hatimu. Semoga semua yang pahit ini dapat ditelan, dicerna dengan baik, menjadi makanan bagi jiwamu.

Semoga segala baik dan terang senantiasa berada dalam jalanmu.

– semoga semesta bersama segenap pasukan naga, serombongan wizards, sekelompok flying angels, sekampung peri, sebatalyon chimera, phoenix, unicorn, dan teman-teman lainnya cukup untuk membantumu.

Eating is (always) a celebration

Standard

food

Makan buat saya selalu merupakan sebuah perayaan.

Bagaimana bisa menganggap makan bukanlah sebuah perayaan? Perhatikan sepiring nasi, atau hidangan apapun itulah yang sedang berada di depan anda pada setiap prosesi makan. Lihat baik-baik. Pasti setidaknya ia terdiri lebih dari 2 unsur. Semua unsur yang mencipta jagad kecil di depan kita itu mewakili apa yang bumi hasilkan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Bayangkan ada sepotong ayam yang hidup hanya untuk memenuhi takdirnya di piring kita, atau sepotong ikan yang merajai lautan luas tetapi mengabdi pada kepentingan kita untuk berakhir di meja makan. Ada setangkup sayur yang ditumbuhkan dengan penuh rasa sayang selama beberapa waktu, hanya untuk membuat kita merasa puas sudah berhasil mengikuti pola makan yang sehat. Belum lagi para telur, yang sebetulnya adalah bakal kehidupan baru, yang tak sempat menjadi, hanya karena kita memerlukan mereka memenuhi kebutuhan nutrisi. Tiap-tiap unsur di dalam jagad kecil ini membawa banyak kisah, mereka yang tadinya hidup, tetapi kemudian rela (atau sebetulnya tak punya pilihan) mati hanya untuk menjaga kita supaya tetap hidup. Jadi sebaiknya mulailah menghormati setiap unsur yang kita gunakan untuk mengisi perut.

Kemudian ada pula kisah orang-orang yang mengusahakan setiap anggota jagad kecil yang berupa sepiring makan siang atau malam ini dapat menuntaskan misinya. Ada yang merawat, mengurus, mengupayakan mereka tumbuh, mengusahakan mereka sampai pada kita, daaan juga ada mereka yang sudah mengolah setiap unsur ini sehingga mewujud, menjadi sebuah perayaan di dalam satu piring hidangan. Orang-orang yang sudah berpartisipasi mengusahakan terwujudnya sebuah pesta di dalam sepiring hidangan ini sebetulnya adalah para pahlawan bagi saya. Tanpa mereka kita tak mungkin bisa punya perayaan 3 kali sehari!

Pada banyak kebudayaan tua, makan selalu memanglah sebuah perayaan. Lihatlah ukuran dan bentuk dapur-dapur tradisional, semuanya menyertakan unsur yang menghormati proses. Dapur-dapur di Nusantara dan di luar negeri sana, yang tua, sepertinya paham betul akan peristiwa perayaan ini. Pada banyak tradisi, makan selalu merupakan sebuah prosesi yang melibatkan banyak orang, mulai dari persiapan sampai acara puncaknya. Kita tahu ada kebiasaan makan bersama di mana orang2 akan duduk di sepanjang sepotong kain putih yang dibentang di lantai, di atasnya tersaji berbagai jenis masakan, atau ada orang-orang yang makan bersama-sama dari satu tampah besar lengkap berisi nasi dan lauk-pauk, sementara di kebudayaan Barat ada meja makan yang panjangnya bisa memuat 20-30 orang sekali duduk, meja sepanjang ini juga dikenal di beberapa tempat di Nusantara. Dulu ketika orang belum mengenal dikotomi Barat dan Timur, ketika belum terbentuk sistem kelas, prosesi makan adalah sebuah perayaan milik semua warga. Semua akan terlibat dalam proses menyiapkan dan semua akan menikmati perayaan bersama-sama.

Saat ini makan sepertinya tidak lagi dipandang sebagai sebuah prosesi, orang cenderung makan dengan cepat, tidak memperhatikan apa yang dimasukkan ke dalam mulut, dan mereduksi aspek sosial dari peristiwa makan. Makan ketika segala sesuatu berputar dengan cepat menjadi sekedar sebuah peristiwa makan saja, sekedar mengisi perut. Padahal sebetulnya pada memori kolektif, sisa-sisa kemegahan perayaan, prosesi ini, masih terpatri. Kita terkadang begitu senangnya menggagas acara makan-makan bersama, begitu rindu pada kesempatan-kesempatan semacam ini dan ketika melihat ada orang yang sedang makan sendirian, kita sering kali membatin, merasa kasihan. Itu salah satu buktinya, bahwa ingatan purba tentang kemegahan prosesi makan kita masih punya. Jadi mulailah menghargai makanan dengan lebih baik, dan rajin-rajinlah menggagas acara makan bersama, memasak untuk bersama, supaya lebih bahagia. Menurut saya, kalau kita memperlakukan makanan dengan sepantasnya, sebaik-baiknya, maka barulah si makanan yang masuk akan jadi sesuatu yang bermanfaat.

“Food, in the end, in our own tradition, is something holy. It’s not about nutrients and calories. It’s about sharing. It’s about honesty. It’s about identity.” – Louise Fresco.

FINE TUNING

Standard

IMG_0014

Fine tuning. Ingat ketika kita semua masih hanya mendengarkan radio di rumah? Ingat repotnya mencari-cari frekuensi yang tepat karena harus memutar-mutar beberapa tombol? Tapi begitu mendapatkan gelombang yang tepat rasanya puas sekali kan? Kalau sekarang sih sudah jarang yang masih mendengarkan radio, dan semuanya serba digital, jadi pasti mencari gelombang yang tepat tidak membutuhkan usaha sekeras dan seseru dulu. Sepanjang tahun ini sepertinya kemampuan sabar dan mencari frekuensi yang tepat menjadi pelajaran utama buat saya.

Mulai dari awal tahun saya sudah sibuk menata dan memilah-milah, mengevaluasi, mendefinisi ulang beberapa hal. Mulai dari deretan teman-teman, serangkaian urusan dan aktivitas, kepentingan, kewajiban dan kebutuhan, jenis-jenis pekerjaan yang wajib dan yang suka rela, sampai meredefinisi siapa dan apa saya itu. Untuk urusan yang belakangan ini sepertinya menjadi never ending quest, karena kelihatannya selalu sibuk mengevaluasi, mendefinisi ulang sepanjang waktu. Tahun ini memang serba penuh buat saya. Beberapa hubungan pertemanan pada akhirnya saya biarkan fading away, memang sudah waktunya tak beririsan lagi, mungkin saya sudah tak diperlukan lagi dalam hidup beberapa orang, untuk sementara waktu ini. Jadi saya berela hati saja, sambil berharap semua baik-baik. Sementara itu beberapa teman justru jadi semakin terlibat, hubungan jadi semakin rapat, semakin banyak yang dibagi. Mungkin perimbangannya memang begitu, harus ada yang menjauh, supaya yang lain, yang lebih membutuhkan atau dibutuhkan punya ruang untuk bisa mendekat.

Tahun ini saya mencermati gerak minat yang bergeser, kurs yang sedikit berubah, dengan fokus yang tetap sama, hanya menjadi jauh lebih jelas dibanding sebelumnya. Saya menjadi tahu lebih pasti apa yang saya mau lakukan untuk tahun-tahun ke depan. Mimpi-mimpi lama saya mulai menemukan jalannya mewujud, dan punya mimpi-mimpi baru yang bentuknya lebih konkrit. Mencermati gerak minat, menggeledah rasa, selalu sesuatu yang penting buat saya, karena biasanya ini akan menjadi landasan untuk laku tindak. Untungnya tahun ini saya diberi banyak kesempatan untuk melakukan itu, bahkan saya dijatuhi orang-orang yang mampu mencipta interaksi sehat, yang selalu punya topik menarik untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pendapat, yang semakin menajamkan saya, menyiapkan saya untuk rencana-rencana di depan. Sejak awal tahun rasanya saya mendapat kesempatan berlimpah, untuk belajar tentang dan dari banyak orang, juga tentang banyak hal. Ternyata saya yang sudah sempat merasa punya cukup pengalaman mengenal banyak orang ini, jadi sadar, pengalaman saya belum banyak-banyak amat. Masih saja bisa terkagum-kagum, sambil juga terkaget-kaget, dalam macam-macam interaksi ini.

Di samping itu saya ternyata juga berhasil, tanpa disengaja, menjadi lebih produktif. Bayangkan saja, tahun ini saya, di luar dugaan, sempat, atau tepatnya diberi kesempatan, untuk menjalani hampir semua minat saya yang kadang-kadang rasanya terlalu banyak itu (bahkan buat saya sendiri); reading, writing, cooking, driving, drawing, teaching, mingling, discussing, movie-watching, exploring, sharing, managing, swimming, crafting, dan lain-lainnya. Hebat ya, semesta sedang sangat bermurah hati rasanya pada saya. Kadang-kadang saya sampai malu sendiri, di antara ratusan kesempatan yang digagas semesta itu saya masih sempat-sempatnya mengeluh dengan kurang ajarnya, betapa kurangnya waktu yang ada.

Tentu saja tidak semua rasanya segegap gempita itu. Tetap saja ada masanya ketika semua tidak berjalan seperti yang diinginkan, beberapa terasa lepas dan luput digenggam, atau ada masanya saya berharap bisa handling beberapa hal dengan lebih baik. Ada waktunya juga getting frustrated, feeling the pain, merasa gagap menjalani ini dan itu, sometimes disappointed, dan bingung. Cuma rasanya semua itu worth these adventures. Jadi saya tidak berkeberatan sama sekalinot saying that  have no regret at all, ada juga sedikit, tapi lebih dirasa sebagai lessons learned, dan berharap kali lain bisa lebih baik, bisa diupayakan lebih baik. Toh bagian-bagian yang kurang enak, dan yang tidak bisa digenggam, atau luput ditangkap ini, tidak mematahkan saya. Beberapa penundaan juga terjadi, saya tidak tahu apa ini baik atau justru buruk, tapi rasanya juga fine-fine saja. Di kali yang lain saya belakangan merasa terlalu cepat menjatuhkan keputusan. Ha-ha saya terdengar sok bijak di sini, saya tahu. Memang dalam terjemahan hariannya ya tidak secantik itu. Saya tetap saja mengomel-ngomel, marah-marah kadang-kadang ketika merasa perlu, mengeluh juga kalau sudah terlalu penuh, bahkan sampai merengek-rengek dengan rewelnya. Sampai di ujung tahun ini saya masih sibuk bergelut dengan beberapa yang menunda-nunda dan yang tertunda-tunda *sigh*, hahaha..

Semua cerita di atas mengingatkan saya, kalau saya ini masih kurang cakap mengutak-utik banyak hal, dan kurang sabar. Fine tuning itu memang susah-susah gampang (atau gampang-gampang susah ya?) dan jelas butuh kesabaran, yang banyak, well buat saya, saya tahu ada yang jaaauuuh lebih sabar dibanding saya, banyak. Saya terkadang bahkan terasa harus struggling untuk hal yang kecil-kecil, seperti misalnya; diam di tempat atau bergerak, menunggu atau menjemput, bersedia atau pergi, sekarang atau nanti saja, earning more atau leisure more, dan sejuta lainnya. Untuk itu semua saya seringnya kurang sabar. Terkadang saya ingin pinjam kesabaran punya yang lain saja, pada saya ia terlalu cepat habis menguap.

Tahun ini juga pada teman-teman saya banyak yang terjadi, ada yang sedang tumbuh, tapi beberapa sedang sedikit retak, yang lainnya mungkin malah patah. Ada teman-teman yang sedang pecah berderai, ada yang justru sedang terbang bebas, ada juga yang sedang sibuk menyatukan repih-repihan yang tadinya berserakan. Untuk beberapa saya tahu, masa ini sedang sulit-sulitnya, yang lainnya justru sedang sibuk berkibar-kibar. Ada yang sedang menimbang-nimbang dengan teliti dan tak kunjung punya keputusan, ada juga yang baru saja mengeksekusi, menjatuhkan pilihan, sementara yang lain sedang mulai merasa punya pilihan. Untuk semuanya itu saya bersuka cita, hidup ini memang lucu, kita selalu diberi kesempatan yang banyak untuk menjadi apapun yang kita mau sambil terus berlatih, mengasah, mengasuh, menimbang, bergerak, asalkan kita mau, berterima, berela hati lebih banyak. Biasanya semesta jadi luar biasa murah hati ketika kita bergerak berselaras, bukan melawan arusnya. I know it’s much easier to say than to do, but this is true.

Jadi, selamat tahun baru, teman-teman.
Mari berharap semesta selalu bermurah hati, semoga bahagia, selamat, dan terang selalu untuk kita semua.

————————————————–
Istilah fine tuning disumbang oleh AS, walaupun ia tidak tahu sudah menyumbang, ketika muncul dalam sebuah obrolan yang tidak berhubungan dengan bahasan ini. Tetapi karena saya sedang cari judul, dan rasanya pas, jadi saya pinjam saja, ya Fiq, I know you don’t mind.

LACAK KREATIF 2: LACAK PURNAMA

Standard

ATT_1417984060852_20141207_051118

Acara kali ini adalah kegiatan Lacak Kreatif yang kedua, setelah akhir Oktober lalu bersama-sama melacak bintang di saat bulan gelap, kali ini kami ingin melihat langit ketika bulan purnama. Tanggal 6-7 Desember yang lalu bersama rombongan yang kurang lebih sama, kami kembali ke Gunung Padang. Kami masih tetap didampingi oleh Pak Suhardja, yang akan memandu kami mengamati langit di saat purnama, dan Pak Pon Purajatnika, arsitek yang membantu dan memandu kami mengamati kawasan. Kegiatan Lacak Kreatif kali ini mendapat tamu yang juga ingin mendapat kesempatan menikmati purnama dari situs Gunung Padang, Direktur Pengembangan Daya Tarik Wisata, Bapak Azwir Malaon bersama timnya.

Setelah semua anggota kelompok berkumpul, kami berdiskusi sekaligus mengevaluasi Lacak sebelumnya sambil merencanakan beberapa kemungkinan kegiatan lanjutan sambil menikmati makan siang. Pengalaman Lacak yang pertama pada akhirnya membuat tumbuhnya kesadaran bahwa menunda keterlibatan dalam upaya pelestarian situs sepertinya tidak bisa lagi dijadikan pilihan. Dalam beberapa kesempatan sebelum kegiatan Lacak yang kedua ini, salah satunya adalah kunjungan ke Observatorium Bosscha, diskusi yang terjadi semakin menunjukkan bahwa sebetulnya setiap orang dalam kelompok kegiatan ini sudah sangat ingin dan siap terlibat dalam upaya pelestarian. Gagasan untuk menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai kawasan astrowisata dinilai akan berdampak baik dalam upaya penyelamatan situs.

Kami berharap kawasan ini tidak buru-buru mengubah dirinya menjadi seperti kawasan wisata lainnya, yang menjadi sangat padat dan kumuh, penuh dengan berbagai macam bangunan tempat usaha saling bertumpang-tindih. Langit yang saat ini masih bersih di atas kawasan Gunung Padang sangat menguntungkan untuk mengamati bintang dan benda langit lainnya, dengan atau tanpa teleskop. Kondisi ini juga yang kami dapatkan ketika pada malam sampai dini hari itu, didampingi oleh Pak Suhardja, astronom yang membantu kami memahami langit. Setelah hujan yang turun di sore hari, diikuti dengan turunnya kabut menjelang senja, malam masih tetap belum menjanjikan kesempatan melihat purnama, karena gerimis kembali berlanjut sampai menjelang tengah malam. Kami sangat beruntung ketika menjelang tengah malam, langit perlahan-lahan mulai menjadi terang dan bulan tidak lagi malu-malu. Pada puncaknya terang, kami bahkan punya bayangan, di tengah malam.

Pengalaman ini dirasa sangat unik, bukan hanya karena adanya purnama, tetapi justru karena bulan purnama menjadi bagian dari keseluruhan pemandangan yang disajikan oleh tempat, dalam konteks yang tentu saja terasa lebih bermakna mengingat suasana yang berhasil dihadirkan, sepi dan sunyi. Bayangkan, kami berdiri di ruang terbuka, bulan bulat sempurna dalam puncak terangnya, bahkan ada semacam lingkaran di seputar bulan yang membingkainya dengan awan tipis berpendar lembut. Pelataran teras-teras Gunung Padang menyajikan bayang-bayang gelap bebatuan, juga bayangan pepohonan. Di kejauhan tersaji pemandangan puncak Gunung Gede dan Pangrango, sementara tubuh gunung tertutup lautan awan putih yang bergerak perlahan, karena angin bertiup lumayan kencang malam itu. Kerlap-kerlip lampu dari Sukabumi menguatkan imaji bahwa bisa saja yang sedang kita saksikan adalah pemandangan sebuah kota pelabuhan. Puncak Gede dan Pangrango bisa saja adalah sebuah pulau, karena lautan awan di bawahnya bergerak perlahan seperti mengombak, dan lampu-lampu Sukabumi menjadikannya seperti sebuah kota pelabuhan.

Pengalaman ini, berada di ruang terbuka, di bawah cahaya purnama, menyaksikan pemandangan yang tersedia karena alam bermurah hati, bagi saya yang awam akan cerita sejarah dan tidak begitu peduli dengan segala kontroversi mengenai penelitian dan keberadaan Gunung Padang, cukup menumbuhkan rasa sayang terhadap tempat yang menurut saya sangat spesial ini. Saya menjadi semakin khawatir bahwa pengalaman ini di masa-masa depan tidak akan bisa diulang kembali jika ia hanya akan menjadi tempat wisata yang sama seperti tempat lainnya. Apa yang menjadikan pengalaman ini magical adalah kombinasi dari keadaan alam yang masih cukup terjaga baik, langit yang relatif bersih bebas polusi cahaya, kawasan sekitar yang sampai saat ini masih berhasil dipertahankan sebagai area pertanian dan karenanya menjadi sangat hijau, sepi, jauh dari riuh-rendahnya bunyi-bunyian kota. Pengalaman semacam ini tidak pernah bisa ditukar dengan apapun, ditularkan melalui media apapun juga rasanya tak mungkin akan memanggil rasa yang sama. Ia otentik, hanya didapat melalui interaksi langsung dengan tempat. Justru karena itulah ia menjadi kaya makna.

Hal-hal semacam apa yang saya ceritakan di atas inilah yang sebetulnya akan menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya. Generasi berikutnya harus masih bisa mencicipi bagaimana rasanya mengamati langit bukan hanya melalui program yang disajikan di layar, merasakan bagaimana tempat mampu berinteraksi, beresonansi mengisi ruang di dalam dada. Memahami konteks tempat beserta elemen lain yang membangunnya akan menumbuhkan rasa dan pemahaman yang lebih baik untuk dapat turut serta memperhatikan dan menjaga alam bersama isinya. Pembekalan yang baik melalui informasi tentang tempat, sejarahnya, serta budayanya akan membantu pemahaman, dan selanjutnya diharapkan akan menumbuhkan perhatian yang lebih dan kesadaran yang sehat untuk turut serta memeliharanya.

Dalam upaya ini jugalah sepanjang siang menjelang malam, kegiatan Lacak Purnama menggagas kesempatan berdialog dengan masyarakat setempat. Kami ingin mendengar cerita dan pengalaman mereka yang tentu saja merupakan reaksi terhadap tumbuhnya tempat sebagai lokasi wisata, juga sebagai area penelitian. Beberapa teman yang adalah perwakilan dari tiga kampung yang berkedudukan di atas, di belakang situs, menyempatkan diri untuk bertemu dengan kami. Lokasi yang dipilih untuk bertemu adalah landasan helikopter yang dibangun nonpermanen, jadi merupakan titik yang relatif tinggi. Duduk bersama dan berdiskusi sore itu, pemandangan yang tersaji sudah lebih awal memerangkap rasa sayang, ditambah pula ketika mendengar cerita para teman yang ternyata punya kekhawatiran sama. Arus wisatawan yang belakangan ini membanjir, seiring dengan berkembangnya berbagai kisah mengenai situs, menjadi perhatian utama. Semua mengkhawatirkan keutuhan tempat, cemas situs akan semakin rusak, sementara membendung arus wisatawan dirasa sulit dilakukan.

Cerita yang diutarakan, kekhawatiran yang disampaikan, dan rencana-rencana yang mereka miliki dibagi dengan murah hati, membuat kami semakin paham tentang kesulitan menghadapi arus dan kepentingan wisata yang semakin terasa berkejaran dengan upaya pelestarian tempat. Dalam kesempatan yang sama Pak Pon Purajatnika kembali mengingatkan untuk tetap mempertahankan tradisi lama, memanfaatkan pengetahuan tradisonal dalam upaya pemanfaatan situs, misalnya ketika membangun sebaiknya menggunakan bahan baku dan konstruksi bangunan yang memang milik setempat, sehingga ramah pula akibatnya terhadap alam dan lingkungan sekitar. Beberapa contoh bangunan bambu dibawa khusus untuk diperlihatkan pada kami dan teman-teman di sana. Pak Pon lebih jauh menjelaskan bagaimana sebetulnya kita bisa memanfaatkan lahan untuk memperbanyak tanaman bambu, yang nantinya juga bisa digunakan untuk membangun bangunan-bangunan semipermanen yang dibutuhkan untuk kegiatan warga.

Diskusi yang kemudian terpaksa pindah lokasi ke menara pandang karena hujan kembali turun, tidak berkurang hangatnya, karena ternyata kami semua punya perhatian yang sama. Dalam kesempatan ini di sela-sela hujan, kabut dan bergelas-gelas kopi dan teh hangat menjelang senja, muncul berbagai ide dan usulan yang menyimpan potensi untuk dikembangkan, dijalankan, untuk kepentingan situs, alam, dan masyarakat sekitarnya. Dalam interaksi ini mata kami semakin terbuka, ternyata masyarakat setempat sebetulnya pun telah bergiat memberdayakan diri, dan tidak ingin hanya menjadi penonton dalam laku pemanfaatan tempat. Mereka sedang bergiat menghidupkan kembali tradisi lama, sibuk menggali potensi dan nilai-nilai lokal yang dimiliki agar bisa berselaras dengan perkembangan yang sedang terjadi. Di masa ke depan tidak tertutup kemungkinan bahwa sebetulnya kitalah yang perlu belajar banyak dari mereka. Percakapan ini membuka kesempatan untuk saling belajar, karena dalam ruang semacam ini tercipta kesempatan untuk saling menularkan pengetahuan.

Di waktu-waktu selanjutnya saya berharap kegiatan Lacak ini tetap dapat dilanjutkan, beserta dengan kegiatan lainnya yang digagas bersama teman-teman dari Gunung Padang. Interaksi dan dialog yang terjadi sampai sejauh ini memperkaya pengetahuan dan bersifat saling menguatkan niat bersama untuk menjaga dan merawat situs. Upaya ini tentu saja akan memakan waktu, akan mengalami proses yang panjang, harapan saya dan teman-teman kami semua selalu punya semangat yang sama, bersetia pada gagasan ini.

ATT_1417983919031_20141207_051519

WHY THE GIRL WHO GOT AWAY?

Standard

Seharian ini wall Facebook saya isinya penuh dengan status yang berhubungan dengan hari Ibu, hari perempuan. Saya tadinya mau ikut-ikutan pasang juga, tapi tidak sanggup menemukan kata-kata yang tepat, kepala sudah terlalu sibuk rupanya sepagi ini. Dan mampir juga kepala ini pada lagu GIRL WHO GOT AWAY-nya punya Dido. Belakangan saya sanggup mendengarkan lagu ini berulang-ulang.

Beberapa waktu yang lalu saya sempatkan untuk benar-benar menyimak lirik lagu ini. Dan setelahnya saya jadi berpikir agak lama, kok ya judulnya harus pakai kata girl. Karena menurut saya cerita yang dibagi oleh tokoh ‘aku’ di lagu ini milik semua gender, bukan hanya untuk perempuan. Coba ya, lihat 2 bait lagu ini;

I wanna move with the seasons
Go with the flow, take it easy, and let stuff go
I wanna sleep like a baby, and rise with the sun
Kick it all back, and get nothing done
I wanna make this day the longest day
With a warmth that delivers happiness

Don’t wanna take sides, don’t wanna make sense of pounds and pence
I want to be alone, don’t want hide, don’t want to be talked over, or walked upon
I want to think the heart is bigger than the head
I wanna follow you but not be led

Apa memang betul cuma perempuan saja yang ingin hal-hal tersebut di atas? Bukannya semua orang ingin sekali-kali tidak memikirkan apapun, tidak harus melakukan apapun, dan tidak harus berpihak? Kita semua kan tak ingin sembunyi, tak ingin dibicarakan, atau diinjak hak-haknya? Well, mengenai 2 baris terakhir saya kurang bisa menyatakan ini adalah keinginan semua orang, tapi buat saya 2 baris terakhir dari bait di atas sungguhlah terasa mengena. Saya rasa semua orang ingin atau bahkan butuh hal yang sama (kecuali 2 baris terakhir ya). Tetapi ketika menyimak bagian bridge-nya saya menjadi tertegun-tegun, coba deh lihat;

I know what its like to be passed over, to go unnoticed, to be clumsy get things wrong
And I know what its like to arrive too late, to be told to leave, to be walked upon

Ketika Dido mengaitkannya dengan bagian refrain sebagai berikut;

If only for today I wanna be the girl who got away
The lover who really loved
The dancer who danced to the last song

Maka saya mengambil kesimpulan sementara, mungkin memang ada maksudnya. Dido mungkin mencoba mengatakan hal-hal semacam ini sering kali dialami perempuan? Atau lebih sering menimpa perempuan? Bahwa perempuan sering kali diabaikan, disia-siakan? Sehingga untuk waktu 1 hari saja ia ingin lari atau melarikan diri dari semuanya, dan hanya menjadi dirinya saja tanpa perlu memikirkan yang lainnya? Memangnya para laki-laki tidak ingin melarikan diri juga, tidak perlu hanya menjadi dirinya saja tanpa memikirkan yang lain? Saya memang sering kali jatuh dalam reduplikasi kalau sedang berusaha membuat bagian-bagian tertentu menjadi penting, ha-ha!

Di titik ini sebetulnya saya sulit bersetuju dengannya. Di awal saya sudah menyebut kalau menurut saya pengalaman semacam ini sifatnya universal, bisa dialami gender manapun, bukan hanya perempuan, itu yang pertama alasannya. Selain itu mungkin karena saya secara pribadi tidak pernah mendapat cukup pengalaman yang mengharuskan saya atau membuat saya mendapat pengalaman semacam yang digambarkan di atas, lebih-lebih sebagai perempuan. Nah di sini saya tahu, saya terdengar sok, atau mungkin egois. Karena pasti ada yang akan protes, bahwa saya sebetulnya termasuk golongan yang beruntung. Well, mungkin. Tapi saya lebih suka meninggalkan masalah keberuntungan dalam hal ini. Lebih-lebih lagi, sebetulnya saya tidak hanya ingin bicara mengenai pengalaman saya saja.

Ada hal yang lebih menarik, lebih penting untuk dibicarakan di sini. Berangkat dari titik pertama, saya yakin bahwa pengalaman ini bukan spesifik milik perempuan saja, di hari Ibu dan/atau hari perempuan ini, saya justru ingin mengajak kita semua untuk berpikir tentang bapak dan laki-laki. Lagi-lagi, coba lihat lirik lagu di atas, ask around, atau bahkan tak usah bertanya, coba saja mengamati lebih baik, laki-laki juga pasti punya pengalaman yang sama, sebagai manusia. Masa sih tidak pernah merasa diabaikan, disia-siakan, atau tidak dianggap? Masa mereka tidak punya kebutuhan dan keinginan seperti yang digambarkan dalam 2 bait pertama di atas? Pasti punya dong sebetulnya, kan judulnya masih manusia juga. Dalam rasa sebetulnya kita sama, mungkin dalam laku dan terjemahannya kita berbeda, tapi inti yang di dalam tetap sama, saya yakin itu.

Sebetulnya bahkan lebih menyedihkan (walaupun segerombolan teman laki-laki saya pasti protes atas kata menyedihkan ini) karena mereka tak punya hari Bapak atau hari laki-laki lho. Dalam hal ini kita tak berlaku adil. Apa yang membuat perempuan dan/atau para ibu perlu satu hari khusus untuk dirayakan, sementara laki-laki dan/atau para bapak tidak? Saya sudah tahu jawabannya, pasti karena menjadi ibu itu mulia, menjadi perempuan itu juga mulia karena ia akan mengandung janin kehidupan. Apa kemudian menjadikan laki-laki yang memberi benih tidak mulia? Atau yang tidak mampu mengandung tetapi akan menjaga mati-matian calon anak kurang mulia? Dan bagaimana pula perempuan-perempuan yang memang tidak bisa atau tidak mau mengandung? Apa kemudian mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi mulia juga?

Saya tidak mengecilkan arti perempuan dalam hal ini, tidak pula berusaha mereduksi makna ibu, tidak juga memancing perdebatan tak berujung, cuma menawarkan cara pikir yang berbeda. Saya juga perempuan, yang punya ibu sangat super, bahkan saya yakin yang paling super. Tapi saya juga punya bapak, yang saya yakini adalah bapak yang sangat tepat, sangat luar biasa untuk saya. Juga saya dianugrahi banyak teman laki-laki dan perempuan yang menurut saya, sama hebatnya, sama luar biasanya, dalam perannya masing-masing. Cuma saya sedang berusaha melihat berimbang, tak lagi hanya memandang gender, tapi memandang semua hanya sebagai manusia saja. Dan mencoba mengajak untuk berpikir lepas dari pengkotakan gender. Karena dalam pengalaman saya, saya pun diperlakukan tak berbeda, kalau pun ada pengistimewaan terhadap saya dari gender yang berbeda pasti bukan karena saya perempuan, tapi karena saya disayang, diperhatikan. Misalnya, kalau saya dibantu mengangkat yang berat-berat, pasti bukan karena saya perempuan, tapi karena mereka mau berbagi beban, saya juga akan membantu teman yang tubuhnya lebih kecil, yang saya curigai tidak sekuat saya untuk membawa beban yang berat.

Apa yang saya coba sampaikan di sini sebetulnya, sambil mengusung ketakberpihakan pada gender, adalah ajakan untuk melihat lebih lebar dari yang mampu dirasakan, untuk menimbang tanpa berat sebelah. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat pada kaum saya sendiri, ada baiknya juga tidak terlalu heboh merayakan hari perempuan atau hari Ibu (saya tahu, pasti banyak yang protes), karena jangan lupa, ada laki-laki dan para Bapak lho. Apalagi ketika kita inginnya dianggap setara, maka mari mencoba betul-betul menempatkan diri setara, jangan mau menjadi rendah dan jangan pula merebut tempat yang terlalu tinggi, upayakan bersejajar, sepenuhnya, sebagai manusia.

Pertanyaan berikutnya; Apakah setelah ini saya masih akan mendengarkan lagu ini berulang-ulang, walaupun tak sepenuhnya bersetuju terhadap pesan yang disampaikan? Tentu saja masih. Karena di sini pun saya masih mungkin salah membaca, saya mungkin saja salah berinterpretasi, harus dikonfirmasi ke Mbak Dido dulu sebetulnya, kalau lagi-lagi maunya mengusung ketakberpihakan itu. Lagian lagunya memang bagus banget kok.

CHOCOLATE CRINKLE

Standard

Chocolate-Crinkles-Cookies-037(Foto ini sebetulnya bukan milik saya, saya ambil dari google image, cuma lupa link-nya, maaf.)

IMG-20141214-00165(Foto ini milik sendiri, agak kurang fokus, kameranya rusak)

Beberapa waktu yang lalu saya iseng, browsing gambar-gambar cookies, karena bosan bikin cookies yang itu-itu saja. Maunya bikin yang lucu tapi nggak terlalu susah. Jadilah saya ketemu gambar pertama, dan mulai mencari resepnya. Resep yang saya cantumkan di sini sudah saya modifikasi, saya sesuaikan.

Cookies ini gam pang sekali membuatnya, bahan dasarnya mirip dengan bahan brownies. Kita cuma harus mencampur 1 cup cocoa powder, 3/4 cup white sugar (saya sengaja bikin yang pahit, kalau kurang suka tinggal ditambah gulanya), 1/3 cup vegetable oil, 120 gram melted dark chocolate atau milk chocolate sesuai selera, 1 tsp espresso powder (bisa diganti dengan kopi instan), 1/2 tsp garam, 2 tsp vanila, 100 gram mentega. Setelah tercampur rata, tambahkan 4 telur, aduk lagi, setelahnya masukkan 2 cups tepung, 2 tsp baking powder. Aduk sampai adonan lengket dan rata. Simpan selama kurang lebih 3 jam di dalam kulkas.

Bulatkan adonan sebesar baso, gulingkan dan lapisi tebal dengan gula bubuk, letakkan di tray yang sudah dialasi kertas roti (penting, karena cookies ini lengket sekali). Letakkan dengan jarak yang cukup karena adonan akan melebar dan menjadi lebih pipih ketika panasnya cukup. Bakar pada suhu 230 derajat celsius selama 35 menit, sampai cookies menjadi kering. Ketika melihatnya merekah dengan sempurna, pasti deh rasanya senang luar biasa.

Resep saya menjadikan adonan coklat terasa sedikit pahit, tapi selimut gulanya akan cukup memberi rasa manis. Kalau tidak terlalu suka rasa pahit, pada adonan cookies tinggal ditambah gula.

 

 

PIE SUSU

Standard

IMG_20140819_221001IMG_20140820_095400Kulit pie bisa dibuat dengan mudah. Hanya perlu mencampur 150 gram mentega (bukan margarin) dengan 1,5 cups tepung (kadang-kadang bisa kurang, bisa juga lebih), hingga berbutir-butir. Kemudian masukkan 1 kuning telur, dan 1 tsp gula bubuk. Setelah tercampur rata, ratakan adonan dengan ujung-ujung jadi agar menempel pada cetakan pie berdiameter kurang lebih 20-25 centimeter. Tusuk-tusuk dengan garpu supaya kulit pie berpori. Dinginkan, dan sekarang kita bisa mulai membuat isi. Panaskan oven pada suhu 230 derajat celcius.

Isi pie adalah 6 kuning telur yang dicampur dengan 400 ml air hangat (bukan panas!) sambil terus diaduk, 1 kaleng susu kental manis, sejumput garam, 2 tsp vanila. Kalau mencampurnya benar maka isi pie seharusnya tidak terlalu cair tapi juga tidak terlalu kental.

Tuang isi pie, and bake for about 1 hour 15 minutes, tapi tergantung oven anda juga. Bisa jadi lebih sebentar, bisa juga lebih lama. Jangan khawatir kalau isi pie menggelembung atau kemudian meletup-letup (asalkan tidak meledak, ha-ha!). Kalau semua benar hasilnya akan seperti foto di atas ya.

Pie ini enak sekali justru dimakan ketika sudah dingin, kalau saya malah dengan sengaja membiarkannya menginap 1 malam di dalam kulkas.

 

LEBIH BAIK BERPAPASAN SAJA

Standard

Melambat sejenak, atau mungkin bisa disebut menunda terkadang terasa baik. Memang orang bilang, menunda itu tidak baik, tapi ada beberapa kasus yang justru membutuhkan penundaan. Dan di dalam kasus-kasus semacam ini ketergesaan justru yang tidak tepat. Coba perhatikan sekitar, semua orang sepertinya selalu sibuk bergerak, pindah dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, meloncat dari satu pengalaman ke yang berikutnya. Well, saya juga cenderung punya pola yang sama. Selalu secara tak sadar mengusahakan ‘bergerak’, tidak hanya diam, bahkan ketika tak terasa sedang maju, jalan di tempat pun sudah cukup, atau sambil menunggu bisa juga membaca, menuntaskan pekerjaan mengedit, menyelesaikan koreksian, ngopi-ngopi, ngobrol, menonton film, atau apa sajalah. Yang penting tidak hanya sekedar diam saja.

Jadi what’s the point then? Begini, saya ini masih selalu berjuang juga untuk sedikit melambat karena beberapa kali menemukan bahwa dengan melambat saya justru menemukan semakin banyak hal yang menarik. Dengan tidak memaksakan ketergesaan. Berjuang? Iya, berjuang. Karena saya ini punya kecenderungan untuk ‘berjalan’ terlalu cepat. Untuk beberapa hal, saya sengaja melambatkan lajunya, karena ada potensi menarik yang justru muncul ketika tak melaju terlalu cepat. Bayangkan mengendarai mobil, dengan cepat, kita memang akan tiba lebih cepat di tempat yang diinginkan. Tetapi mungkin akan melewatkan kesempatan memandang, melihat lebih cermat apa saja yang ditemui dalam perjalanan. Memang terkadang yang ditemui di tengah perjalanan tidaklah menarik, dalam kasus ini memang sebaiknya ngebut saja. Tetapi di kali lain, berkendara justru harus sedikit melambat, apalagi ketika tidak ada tenggat waktu, maka berjalanlah lebih lambat. Terlebih jika sebetulnya rute yang dilewati bukan jalan yang biasa. Berkendara sambil menikmati apa saja yang ditemui dalam perjalanan mungkin bisa menjadi pengalaman yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan rasa senang ketika tiba di tempat tujuan.

Dalam beberapa kasus yang lebih parah, menurut saya, orang-orang sepertinya sibuk bukan hanya bergerak, tetapi saling berkejaran. Mengejar hal-hal yang dianggap ideal, yang dianggap baik, sesuai standar sejuta umat. Burukkah? Tidak juga sebetulnya. Cuma kalau saya ya tidak sanggup rasanya. Satu, karena saya yakin dan akhirnya tahu, yang baik untuk banyak orang belum tentu baik buat saya. Dua, berlarian berkejaran rasanya terlalu melelahkan buat saya, bahkan hanya melihatnya saja saya sudah cukup capek. Ada beberapa hal yang memang memaksa saya berlari, tetapi untuk kasus lainnya yang bisa saya kendalikan, saya memilih berjalan saja, dalam tempo personal. Alasan lain yang mendukung sebetulnya adalah, saya selalu percaya a gentleman will walk but never runs, seperti katanya Sting dalam An Englishman in New York. Tiga, saya selalu percaya mengejar apapun itu rasanya agak sia-sia. Karena dalam mengejar ada asumsi bahwa apapun itu yang dikejar mengambil posisi diam, tetap. Padahal menurut saya semua di semesta ini punya potensi untuk bergerak, berubah. Jadi bukannya tidk mungkin apapun itu yang dikejar juga sebetulnya sedang sibuk berlari, bisa jadi juga sedang berkejaran dengan yang lain lagi.

Dalam kasus ketiga, sedikit beruntung mungkin ketika yang dikejar bergerak linear, berada di depan. Nah, kalau geraknya sama sekali random kemudian bagaimana? Tak beraturan, tak terencana, dan tak terpola. Lebih mengkhawatirkan. Jadi kapan akan sampainya? Dalam kasus ini menurut saya lebih baik berhentilah berlari, apalagi mengejar. Terlalu melelahkan berlari-lari sambil memikirkan strategi. Lebih baik mengusahakan berpapasan saja. Bergerak secukupnya, mengamati, sambil mengusahakan berpapasan saja. Jauh lebih baik.

SAKIT DAN SAKTI

Standard

ziekenhuisjpegMengunjungi orang sakit buat saya tidak pernah mudah. Mungkin karena saya adalah tipikal orang yang ketika sakit sebaiknya memang tidak usah dikunjungi. Datanglah mencari saya ketika saya sedang sehat, sedang girang gembira saja. Saya jamin pengalaman yang didapat akan jauh lebih menyenangkan.

Saya yang sakit pasti menolak mentah-mentah simpati yang berlebihan, kekhawatiran yang tak wajar pasti akan membuat saya jengkel setengah mati, ditambah lagi perhatian-perhatian yang seringnya buat saya tidak terlalu membantu. Ditambah pula harus berkali-kali bercerita tentang hal-hal yang tidak menyenangkan, menjawab ribuan pertanyaan tentang sakit saya. Dan dengan demikian sudah bisa diramalkan, muka saya pasti asem tujuh rupa, dan ketika keadaan semakin tidak tertahankan akhirnya saya akan mulai menembak membabi buta dengan mulut saya. Maka saya berpikir, mungkin orang-orang ketika sakit sebaiknya tidak dikunjungi. Karena pastilah itu juga yang mereka rasakan.

Saya berusaha menghindari sakit, mati-matian, beberapa teman bahkan bilang saya menolak dibuat sakit, apalagi harus sampai dijenguk. Untunglah pemilik semesta sungguh murah hati, bukan kepada saya, tetapi pada orang-orang yang berada di sekitar saya, sehingga saya belum pernah terpaksa dirumahsakitkan, untuk menyelamatkan mereka sebetulnya, bukan saya. Selain itu saya yang sakit is definitely not a pretty sight, and will surely becoming a sore to your eyes, and to your ears if you stay to long with me while I’m not well. Bayangkan, saya yang sehat gegap-gempita saja sudah menyulitkan telinga kadang-kadang, apalagi sedang sakit.

Tetapi saya tidak sepenuhnya benar, karena orang-orang bukanlah saya, dan saya tentu saja bukan mereka. Beberapa kali mengunjungi yang sakit, pengalaman yang saya dapat sungguh berbeda. Si sakit yang saya kunjungi biasanya senang mendapat kunjungan. Dan tidak punya masalah seperti saya di atas. Mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur dan sungguhlah sabar. Padahal kesehariannya yang saya kenal berbeda. Dalam sehat biasanya mereka semua lebih tajam, lebih lantang, lebih sulit dibuat puas dan senang. Ketika sakit semua itu seolah lenyap begitu saja, semua menjadi sangat sabar, berterima, dan yang sedikit membuat saya sedih adalah justru mereka yang sebetulnya menjadi penghibur bagi orang-orang yang menjenguk, termasuk saya.

Sore tadi saya mengunjungi ibu seorang teman di rumah sakit. Bukan pengalaman pertama, tetapi tetap saja masih sulit, walaupun semakin terbiasa. Ibu yang saya kenal adalah perempuan yang selalu punya kegiatan, selalu terlihat sibuk memegang atau mengurus sesuatu. Tadi sore si ibu cuma bisa tiduran saja, belum bisa banyak bergerak, bicara masih susah, setelah stroke ringan beberapa hari yang lalu. Saya harus menggenggam hati saya erat-erat, supaya tidak pecah. Saya sedih. Si ibu justru menjadi orang yang lebih kuat, yang berusaha membuat saya tidak terlalu khawatir. Hebat. Saya sudah pasti tidak mampu melakukannya. Saya yang tiba-tiba jadi tak banyak tanya ini tidak luput dari perhatiannya, dia dengan santainya bercerita panjang lebar tentang keadaannya, mungkin karena merasa saya tidak bisa bertanya, maklum muka saya sering gagal dalam misinya bertopeng. Jadilah saya pura-pura sibuk mengecek berita di telfon genggam, sambil curi-curi lihat, curi-curi dengar, trik yang berkali-kali saya terapkan untuk menyelamatkan diri. Saya langsung merasa terbelah-belah, antara tak ingin berlama-lama dan merasa tak pantas pamit buru-buru.

Setelahnya, sepanjang perjalanan pulang saya berpikir keras. Saya ini mungkin sudah jadi terlalu sombong. Menolak disakitkan, apalagi sampai harus dikunjungi, mungkin cuma karena tidak mau terlihat tidak berdaya, dan sibuk setengah mati menjaga ego saya. Padahal sebetulnya sakit bisa jadi kesempatan untuk belajar rendah hati, belajar sanggup dikasihani. Beberapa kali sebelumnya, ketika sedang sakit ringan dan teman-teman bersiap menjenguk di rumah, saya menolak mentah-mentah untuk dikunjungi, bahkan mendebat mereka sepenuh hati, dan saya menang. Malam ini saya pikir, ketika itu sebetulnya saya sedang pongah-pongahnya, mengusir jauh-jauh orang-orang dekat yang sebetulnya justru harus dilibatkan, karena mungkin dengan menjenguk lepaslah beban mereka.

Herannya setelah kesadaran ini datang, saya tetap pada pendirian awal; kalau sakit saya tidak mau dikunjungi, tepatnya mungkin tidak sanggup dijenguk. Sombong? Jelas. Tapi saya bisa mendebat;  lebih baik berjaga-jaga untuk tidak sakit, meminjam istilah teman; menolak disakitkan, dari pada terpaksa menjadi sombong apalagi ketika sedang sakit. Ditambah lagi ada argumen awal, saya mencoba menyelamatkan kalian semua lho ketika melarang kalian datang, karena saya jamin kejadiannya akan jadi tidak menyenangkan, ha-ha! Dan kemudian ada suara kecil yang berteriak lantang di dalam, menampar saya, kesombongan saya sepertinya keterlaluan, karena siapa juga yang sanggup menolak sakit, kalau memang sakit ya sudah, jatahnya untuk sakit. Si ibu juga tidak bisa menolak sakitnya, karena usia, dan tidak ada kok orang yang dengan sengaja mengundang sakit sebetulnya.

Sekarang saya jadi takut sendiri, berhubung sadar sangat sombong, dan belum pernah masuk rumah sakit, jadi pasti akan datang kesempatannya untuk saya, supaya bisa belajar. Saya berteriak kencang pada semesta, semoga saya diberi kesempatan untuk belajar lebih sabar dulu sebelum dibuat sakit sehingga terpaksa dijenguk. Karena rupa-rupanya memanglah betul, saya ini termasuk jenis manusia yang biasa-biasa saja, nggak bagus-bagus amat, dan juga tidak sesakti yang sering kali saya duga.

Jadi marilah kita tetap sehat teman-teman, karena itu tetap merupakan pilihan terbaik, untuk kemaslahatan umat, untuk kebaikan semua orang maksudnya. 

GAGAL PAHAM

Standard

Just landed, home at last. Judulnya saya gagal paham malam ini, ketika jalan-jalan ramai sekali di jam yang tidak normal. Semua orang sibuk antri BBM, premium naik 2000 rupiah. Akibatnya macet di mana-mana, waktu tempuh menjadi luar biasa ajaib, karena antrian mobil melimpah keluar dari hampir semua pom bensin, jalan padat-bumpet. Perhitungannya begini, harga premium tadinya 6500 rupiah satu liter, sebentar lagi akan jadi 8500 rupiah. Katakanlah mengisi sekapasitas tanki bensin di mobil, berapa banyak? Paling-paling 40 liter. Coba deh, itu kan nilainya berbeda cuma 2000 x 40, 80 ribu rupiah lho. Memang 80 ribu rupiah itu harganya setimpal hampir 10 liter bensin. Tapi come on, waktu yang dihabiskan untuk mengantri apa layak diganti dengan 80 ribu rupiah? Sementara besok pagi-pagi sudah harus terbirit-birit lagi berangkat ke kantor, jam segini masih di jalan?

Sementara mesin mobil menyala, berapa banyak bahan bakar yang dibuang ketika macet atau mengantri? Ini serius lho, ketika antriannya bisa puluhan mobil panjangnya, dari dua arah, dengan akibat semua kendaraan yang tidak turut serta bergiat terpaksa juga harus ikut membuang-buang bahan bakar. Coba ya ada lembaga survey yang melakukan pengukuran malam ini, berapa banyak jumlah bahan bakar yang dibuang-buang sebagai akibat dari usaha yang judulnya mau berhemat atau nggak mau rugi itu. Waktu istirahat jadi berkurang, tingkat stress naikdan besok produktivitas menurun. Belum kalau pake sakit flu atau jadi sakit-sakit lainnya. Ditambah pula kerugian lainnya, menambah tingkat polusi. Paham kan sekarang mengapa saya gagal paham?

Well beberapa pasti akan bilang, 80 ribu rupiah itu artinya besar lho. Ah, tapi saya sulit percaya artinya bisa sebesar itu. Karena yang sibuk mengantri justru pemilik kendaraan pribadi, yang mungkin sebetulnya tidak terlalu terganggu karena merasa ‘rugi’ 80 ribu rupiah, hanya satu kali ini saja pula. Toh aktifitas hilir-mudiknya tetap masih akan sama sibuknya, jarak tempuh harian kendaraannya tak mampu dibuat lebih ekonomis, atau pola berkendaranya masih akan sama tak efisiennya.

Seringnya kita tak mampu melakukan kalkulasi yang menyeluruh, gagal melihat gambaran besarnya, sibuk hanya pada urusan-urusan kecil. Sehingga luput mendapat nikmat. Atau mungkin malah saya mungkin sebetulnya yang gagal mendapat nikmat keuntungan sebesar 80 ribu rupiah malam ini karena tidak ikut ‘berhemat’?
Well, saya cuma jengkel karena terpaksa lebih lama berada di jalan, padahal harapannya bisa lebih cepat sampai di rumah karena seharusnya jalan sudah lebih kosong. Dan lagi-lagi tulisan saya bisa dengan mudahnya kembali ke model lamanya, isinya ngomel-ngomel, hahahahaa…

Banana Cake

Standard

bananacake

Cuma perlu 250 gr mentega dikocok dengan 1 cup gula, masukkan 4 telur, 2 sdt vanilla, 5 pisang yang sudah dihaluskan (jenis apa saja sebetulnya nggak masalah, kalau saya pakai pisang raja yang kebetulan ada), 1 gelas penuh susu hangat yang dicampur dengan 2 sdt baking soda. Aduk rata. Setelahnya masukkan 2.5 cup tepung, dan 2 sdt baking powder, aduk sampai rata.

Panaskan oven di 220 derajat celcius, olesi loyang dengan sedikit mentega, tuang adonan, taburkan kenari, bake for about 45-50 minutes, depending on your oven.

*Ideal for a rainy Sunday afternoon.
With a cup of good coffee, and a good movie or a book (with you on my mind).