I am becoming someone I hate, happily..!
March 14, 2011 2 Comments
I am becoming someone I hate. Sounds strong? Begitu jugalah rasanya sewaktu saya benar-benar menyadari arti kalimat itu. Do you know who I used to hate? Women, the calories-counters. Saya ingat menertawakan orang-orang semacam itu, karena mereka menyebalkan sekali, dan bukan teman yang menyenangkan karena sulit diajak makan ke mana-mana. Saya juga bertanya-tanya, apa nikmatnya ya hidup dengan guarding yourself sebegitu ketatnya. Ha ha ha .. what did I know back then, now I am doing it. Rela atau tidak? Ini parahnya, I am enjoying it.
Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu yang lalu, saya minta tolong pada salah seorang teman yang memang punya pengalaman banyak hidup dengan penderita diabetes akut, untuk mengukur kadar gula di dalam darah saya dengan menggunakan glukometer. Si temanpun kemudian bertanya, ada apa memangnya, kok tiba-tiba memutuskan untuk minta diukur. Saat itu saya menjawab, hanya ingin tahu saja. Maka pada suatu siang di kantor tejadilah kehebohan yang luar biasa. Segerombolan teman-teman kantor saya berkerumun sambil tertawa-tawa. Siapa yang menjadi sumber keriaan itu? Siapa lagi kalau bukan saya. Ya, saya takut jarum. Tolol ya kedengarannya? Tapi begitulah. Mungkin karena saya besar, orang besar kan suka takut pada yang kecil-kecil (atau cuma saya saja ya?). Setelah berhasil mengambil darah saya, alat pengukurpun ditempelkan ke jari saya yang sedang berdarah-darah (ya, memang berdarah-darah kok, saya tidak sedang melebih-lebihkan). Dan tahu angka berapa yang muncul di layar kecil itu? 296. Penonton yang mengerubungi sayapun turut berseru kaget, bersama sang teman tentunya, tetapi saya tidak. Saya terlalu terkejut. Bagaimana mungkin?
Selama beberapa detik ke depan, saya diam, dan kemudian dengan cepat pulih kembali. Setengah pucat saya mencoba rasional. Bermunculanlah 3 gudang pembenaran (I am a woman with ten thousands excuses if I need to, believe me). Sudah 3 malam jam tidur saya tidak beraturan dan terlalu sedikit, sudah berbulan-bulan tidak olah raga dan memperhatikan apa yang saya makan. Orang-orang yang mengerumuni saya terdengar saling sibuk berkomentar dan mulai merasa jeri. Terkejut, jelas. Takut, sudah pasti. Di kantor semua orang tahu, saya memang orang yang tidak punya pantang makan. Sementara yang lain sudah sejak dulu berhati-hati terhadap apa yang mereka makan, walaupun menurut saya, diet yang mereka jalankan tidak benar-benar tepat. Kemudian muncullah berbagai macam spekulasi tentang habit makan saya, meluncurlah nasehat-nasehat sok bijak yang tetap saja kurang meyakinkan terdengar di telinga saya.
Apa yang kemudian saya lakukan. Sayapun seketika tertawa terbahak-bahak. Tahu kenapa? Karena salah seorang teman senior mulai dengan spontan menasehati saya, tentang sulitnya menerima kenyataan bahwa ternyata kita itu sakit. Dan bahwa sebaiknya saya mengambil waktu untuk merenungkan ini semua. What..?! Sepertinya yang sulit menerima kenyataan itu dia, bukan saya. Saya kaget saja, dan saya tahu persis mengapa gula darah saya begitu tinggi. Jadi di ujung tawa saya yang mulai terdengar kurang ajar itu, saya bilang, kalau ini semua memang akibat dari hidup terlalu enak. Salahnya saya sendiri, makan terlalu nikmat, dan tidak pernah bisa tidur teratur, belum lagi konsumsi kopi, ditambah pula saya sangat suka nasi. Oh ya, saat gula darah diukur, saya baru saja makan siang sekitar 2 jam yang lalu dan sedang menikmati secangkir kopi, setelah 3 malam jam tidurnya berantakan.Teman yang tadinya sudah sempat merasa punya teman senasib itupun langsung memasang muka masam, dan tidak jadi bicara lebih lanjut. Setelah kerumunan bubar, dan juga lama setelah rasa kaget saya hilang, saya mulai berpikir dengan serius. Katakanlah hasil pengukuran tidak akurat, dan kondisi tubuh saat itu tidak memenuhi persyaratan, 296 tetap saja angka yang tinggi. Sesial-sialnya meleset 100 pointpun (which is most likely impossible) tetap saja kadar gula di dalam darah saya terlalu tinggi. Suara ayah saya tiba-tiba terdengar di telinga saya (beliau sudah tidak ada), “Hati-hati sama gula, kamu beresiko tinggi tuh karena obess”.
Diabet memang menakutkan sekali rasanya untuk saya. Saya banyak sekali mendengar, melihat sendiri bahkan, betapa hidup menjadi sulit bagi orang-orang yang menderita diabet. Saya melihat bagi mereka hidup menjadi kurang nikmat, karena menjadi begitu terbatasnya. Begitu banyak aturan yang harus diikuti. Saat itu juga saya memutuskan untuk mulai mengatur pola makan. Kadar gula saya harus, tidak bisa tidak, turun dengan cepat. So then, I took some serious action. Saya akan berhenti makan sembarangan mulai siang itu, and starting to count calories. There, you have it now, I am becoming a person I hate, calories-counters.
Malam itu saya tidak makan nasi dan berusaha menghindarinya sampai saat ini. Saya mengganti nasi dengan kentang rebus, mencermati apa yang saya masukkan ke dalam mulut dan menggandakan porsi sayur dan buah, serta mengurangi konsumsi kopi. Satu hari setelah pengukuran pertama, kadar gula saya dicek lagi (tanpa puasa) tetap menggunakan glukometer. Apa yang saya temukan? Turun menjadi 185. Fiiuuh.. leganya saya. Ternyata setelah tidur dengan cukup, tubuh menyesuaikan kembali. Mungkin kondisi saya tidak semenakutkan seperti yang semula saya duga. Diet saya tetap saya teruskan, kali ini dengan panduan tabel nilai gizi yang benar. Dua hari setelahnya, kadar gula saya tidak turun signifikan, hanya 3 point, menjadi 182 (dengan puasa). Ini tidak baik, artinya memang diet ini belum banyak pengaruhnya. Bisa jadi karena baru 2 hari, bisa juga karena seharusnya saya mulai berolah raga.
Rasa penasaran saya kemudian terpanggil. Saya mulai bertanya-tanya pada teman-teman yang punya pengalaman dengan diabet, mulai mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan menyusun menu lebih teliti. Ternyata saya belum tentu mengidap diabet, tapi sudah jelas masuk ke dalam kelompok yang beresiko tinggi. Saya kemudian memutuskan untuk mencermati jam makan, dan memaksakan diri makan sesuai aturan. Saya harus belajar ngemil dengan sehat. Ini adalah bagian yang paling sulit, karena saya tidak pernah ngemil sebetulnya. Maka mulailah saya memikirkan apa-apa saja yang bisa saya jadikan cemilan.
Selain itu saya juga menjadi ahli sekali mengkombinasi apa yang bisa saya makan. Oh ya, saya tetap makan di mana-mana kok. Setiap kali teman-teman mengajak makan ke luar, pasti saya ikut. Hanya saja sekarang saya membawa kentang rebus ke manapun saya pergi. Atau kalau benar-benar terpaksa saya akan mencari menu yang aman dan berusaha membuat kombinasi yang menurut saya bisa saya makan. Saya pernah makan Steak Ikan Dori dengan kentang rebus, dan instead of the french-fries saya minta porsi sayurnya digandakan. Saya juga pernah makan Sate Ayam berbumbu kecap dengan kentang rebus. Soto dan teman-temannya tetap enak dimakan dengan kentang rebus. Atau Ayam Penyet yang dikombinasikan dengan sepiring Pecel tanpa lontong misalnya.
Saat tulisan ini dibuat, saya sudah diet selama 12 hari. Efeknya? Luar biasa. Saya ternyata tidak menderita walaupun tidak makan nasi. Kentang dan kombinasi serat plus protein yang tepat efeknya ternyata baik sekali untuk tubuh saya. Apakah aktivitas saya menjadi berkurang? Tidak juga. Sama sekali tidak ada yang terganggu. Saya juga tidak menjadi cepat lelah karenanya, atau lemas. Saya justru merasa lebih sehat. Satu lagi yang juga menyenangkan, sekarang saya kembali lagi pada hobby lama saya, memasak. Saya jadi tertantang menciptakan menu-menu yang sedap dan variatif tetapi rendah kalori. Bobot tubuh juga sudah mulai turun, dan yang luar biasa efek ini bahkan terlihat nyata. Saya merasa lebih ringan, terlihat lebih segar (kata orang-orang juga begitu). Bahkan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, begitu melihat saya langsung menuduh saya mengurus. Yess..! I love becoming a person I hate, hahahaha…
P.S. Setelah saya selesai menulis, gula darah saya diukur lagi, masih dengan glukometer, angka yang saya dapat : 132. Ini baik, dan diet akan saya teruskan. Nanti suatu waktu kalau saya sudah lebih siap, saya akan medical check-up total, but for now diet dulu deh yang benar. Minggu depan rencananya saya akan mulai olah raga lagi.

Eh Mbak Avie udah mampir, thanks ya sudah meluangkan waktu membacanyaa…
lina, aku udah baca tulisan2 di blog kamu. wah keren dan inspiring banget lho, “lina banget” deh pokoknya.