LIVE spells backward into EVIL
While EROS reverse SORE
And we should never forget the SIN in SINCERE
or the CON in CONFIDENCE
Let’s tighten up the slack sentimentality

- Kosinski 1988:159 -

What does not kill you..

Guys, a multiple choice.
What does not kill you ….
a. makes you stronger.
b. would probably kill someone else.
c. is not strong enough for you.
Please make your choice.

Itu bunyi status saya di Facebook beberapa waktu yang lalu. Kenapa? Cuma karena penasaran, kira-kira apa yang akan dipilih teman-teman. Kalimat ini sebenarnya kan sering kali kita dengar, misalnya ketika ada teman yang sedang memuntahkan deritanya tentang kesialan yang dialami, tentang cobaan yang datang, tentang apapun itu yang intinya membuatnya menderita, maka muncullah kesempatan untuk mengatakan kalimat semacam, “Ya, memang berat, tapi what does not kill you…” Biasanya kalimat ini diucapkan untuk menguatkan, membantu sang teman untuk berterima dengan harapan mampu melihat makna di belakangnya, atau mendapat hikmahnya.

Nah, sekarang bagian yang seru adalah apa yang dipilih oleh teman-teman saya sebagai jawaban. Beberapa teman memilih ketiganya sekaligus. Jadi kira-kira begini, apa yang tak membunuh kita, bisa membuat kita lebih kuat, bisa juga membunuh orang lain, atau bisa juga berarti hal itu tak cukup kuat untuk membunuh kita. Tentu saja, ketiganya benar. Tetapi saya ingin mereka memilih salah satu, bukan ketiganya. Kemudian saya mulai membaca dengan cara yang sedikit berbeda, ternyata saya punya teman-teman yang lapang hatinya dan punya kemampuan beradaptasi yang baik. Mereka tidak mudah menggeneralisasi, setiap kasus akan punya makna yang berbeda, dan mereka bersedia mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Beberapa teman yang lain, mengusulkan pilihan tambahan. Menurut mereka, harusnya ada pilihan d. might kill you later. Nah, saya juga berpikir ini pilihan yang menarik, yang lupa saya cantumkan, karena saya juga setuju hal ini mungkin. Apa yang tidak membunuh kita (sekarang), mungkin saja akan membunuh kita nantinya. Hmm.. kemungkinan yang sepertinya sedikit mengerikan, karena begitu benarnya. Maka saya pun kemudian mulailah menghitung beberapa hal yang sudah saya lalui, tetapi tak berhasil membunuh saya, dan kemudian mengklasifikasikan mana-mana saja yang punya kemungkinan membunuh saya nantinya. Ih, saya kok jadinya ngeri sendiri, kapan ya kira-kira saya akan terbunuh karena hal-hal ini. Daftar saya tidak betul-betul panjang sih, tetapi tidak mungkin saya prediksi dengan jelas. Ah ya, itu bagian sengsaranya saya, tidak begitu menarik dibahas di sini. Setelahnya saya berpikir, apa itu juga akan jadi bagian sengsaranya teman-teman saya? Sungguh menarik untuk dibahas berpanjang lebar sambil menghabiskan bergelas-gelas kopi mengarungi waktu-waktu kosong. Harus saya catat baik-baik, topik ini punya kemungkinan berujung pada diskusi-diskusi yang mematikan, hahaha…

Banyak teman-teman yang memilih b. would probably kill someone else. Pilihan ini membuat saya tertawa terbahak-bahak. Saya juga sempat berpikir mungkin ini yang paling cocok buat saya. Apa yang tidak membunuh saya, mungkin akan membunuh yang lain. Betapa nyamannya berhenti di pilihan ini rasanya. Kasarnya, kalau saya tak terbunuh, maka mungkin yang lain saja. Ketika saya bolak-balik, saya regang, saya ciutkan, saya putar-putar, saya terkejut. Bersama dengan pilihan ini, rupanya juga bisa ada nosi, “dari pada gue yang mati terbunuh, mendingan yang lain deh yang mati”. Pantas saja pilihan ini terasa nyaman, dan pantas saja banyak yang memilihnya. Ternyata saya dan teman-teman memanglah manusia-manusia yang punya potensi untuk menjadi sekejam itu.

Saya kemudian berpikir lebih lanjut, memutar-mutarnya sekali lagi, menempatkannya dalam ruang-ruang yang berbeda, meletakkannya dalam berbagai sudut cahaya yang berbeda sepanjang daya pikir saya mampu. Apa yang kemudian muncul di dalam kepala saya yang cenderung merepotkan hal-hal yang tidak begitu penting ini adalah, justru mungkin pilihan ini dipilih karena sebenarnya kita juga khawatir, “jangan sampai ada orang lain yang terbunuh karena kita tidak bersedia dibunuh” atau “lebih baik saya deh yang terbunuh dari pada orang lain”.  Setelah sampai pada pemikiran ini, saya kembali terbahak-bahak. Betapa kurang ajarnya saya, mencoba mencari pembenaran yang bau-baunya heroic. Ingat, sayapun tergoda memilih yang sama lho. Dan maka kemudian semakin jelaslah, betapa nyamannya pilihan nomor dua ini buat saya dan bagi sebagian besar teman-teman saya. Kami ternyata memanglah sekelompok orang-orang yang kurang ajar, sedikit mirip dengan Inglorious Bastards rasanya (sedikit lho, nggak banyak kok, karena rasanya kami ini tidaklah setangguh gerombolan itu).

Ada yang memilih c. is not strong enough for you. Hmm.. menarik juga. Apa yang tidak membunuh kita, berarti tak cukup kuat untuk kita. Jadi, untuk bisa menentukan apa-apa saja yang cukup kuat untuk kita, kita harus terbunuh lebih dulu? Di mana serunya? Setelahnya kan kita mati, dan tak bisa menikmatinya lagi? Ini berarti sepanjang waktu kita harus berjuang bertahan hidup, mempertahankan diri, supaya tidak mati duluan. Jika kita keluar sebagai semacam pemenang, karena tak berhasil ditumbangkan, maka kita klasifikasikan lawan itu (bisa diterjemahkan sebagai apa saja, bukan selalu orang, bisa juga peristiwa atau benda) tidaklah cukup kuat untuk kita. Saya rasa kemudian, apapun tak akan cukup kuat dong untuk kita, naluri kita pastinya akan berusaha mencegah mati-matian agar kita tak terbunuh. Ah, kok terkesan jagoan sekali ya, tapi mungkin akan mati kesepian? Karena begitu mudahnya membuang-buang lawannya, sudah tak lagi dianggap cukup untuk dirinya, dan secara tak langsung muncullah nosi menjadi tak penting, tak cukup berharga untuk tetap disimpan, tak lagi menarik?

Pilihan ketiga ini juga bisa dibaca berbeda, bisa juga pilihan ini terasa nyaman karena dengan memilih ini berarti mengambil sikap untuk siap selalu bertarung, berjuang. Dan bersama pilihan sikap ini muncul semacam rasa yang menentramkan, karena hidup mungkin menjadi lebih menarik karena akan penuh dengan pertarungan-pertarungan yang mengasyikkan, penuh tantangan. Tapi buat saya kok terdengar sedikit melelahkan ya? Saya mungkin saja tidak selalu mau bertarung rasanya. Ada masanya saya memilih meninggalkan arena, terlalu malas, atau di kali lain saya diam saja, memilih untuk digebuki habis-habisan, karena terlalu malas melawan (ada yang berteriak-teriak protes sewaktu membaca ini, saya tahu, hahaha..). Saya rasanya lebih mungkin untuk meninggalkan arena karena terlalu malas untuk bertarung, dan akan berjalan menjauh sambil tertawa-tawa, dan mungkin sambil berusaha menelan rasa pahit, mungkin lho, mungkin saja. Saya tahu, bertarung dari luar arena tidak akan menjadi pilihan saya, apalagi sambil berteriak-teriak melempari lawan saya dari luar arena dengan meja, kursi, atau apapun, hahahaha….

A. makes you stronger, tidak begitu menarik sebetulnya sebagai pilihan bagi saya. Karena ia terdengar begitu biasanya, begitu klisenya, dan juga mungkin karena menurut saya agak terasa kurang benar. Walaupun versi inilah yang paling banyak kita dengar. Mungkin karena orang-orang pada dasarnya memanglah suka sekali menepuk-nepuk dirinya sambil mengatakan “everything will be alright” sementara buat saya “tentu saja semuanya tidak akan selalu jadi baik-baik, tetapi tidak apa-apa kan kalaupun harus tak baik-baik”. Selain itu, mungkin juga karena kalimat yang sama terlalu sering muncul di dalam lirik-lirik lagu, terlalu publik sifatnya, dan terlalu pasaran (ugh.. sok banget ya kedengarannya). Saya sedikit tidak rela karena biasanya  hal-hal yang terdengar pasaran semacam itu jadi berkurang maknanya, tereduksi keindahannya, dan punya kesempatan untuk terabaikan, tak lagi dimaknai seperti hakekatnya.

Belum tentu juga apa-apa yang tidak membunuh kita itu akan menjadikan kita lebih kuat lho. Ada kemungkinan mereka justru membuat kita semakin lemah, karena habis terbanting-banting, tergores-gores, terpelintir, terpukul, teriris, terinjak-injak, tersiksa luar biasalah pokoknya, hahaha.. Bisa jadi juga membuat kita kapok luar biasa hingga sampai di batas trauma, membuat kita menjadi apatis saking menyakitkannya percobaan pembunuhan itu. Bisa jadi juga membuat kita setelahnya tak mampu lagi meneruskan hidup. Kemungkinan terakhir ini terdengar mengerikan luar biasa, karena walaupun tak mati sebenarnya hampir tak ada bedanya, bahkan mungkin berakhir pada keadaan yang begitu menyedihkan, sehingga lebih buruk dari sebelumnya.

Tiga pilihan itu, atau lima sebetulnya (terima kasih teman-teman, atas sumbangan 2 pilihan lainnya!), ternyata berhasil membuat saya lagi-lagi mengoceh panjang lebar. Buruknya lagi, saya masih belum puas. Akan harus ada sesi lanjutan sepertinya, yang jelas-jelas akan terjadi di luar ruang blog ini bersama teman-teman. Mungkin nanti saya akan kembali melaporkannya, akan kembali memutar-mutar pilihan-pilihan yang ada, membolak-baliknya, mencoba melihatnya dari jarak yang lebih jauh, atau merangkul semuanya lebih dekat, dan bahkan muncul dengan sederetan pilihan baru yang jelas-jelas akan menyibukkan kepala saya selama beberapa waktu. Ya, saya memang bisa sekurang ajar ini, dan yang lebih kurang ajar lagi, sepertinya saya akan menikmati, ikut serta dalam diskusi yang membuat orang-orang berkerut-kerut keningnya karena menyadari bahwa sesungguhnya semua ini tidaklah sebegitu pentingnya untuk dibicarakan.

Saya sepertinya akan berhenti sampai di sini dulu. Lagi-lagi tulisan ini menjadi terlalu panjang dan mulai kurang menarik. Selain mulai bosan, saya sebetulnyapun sudah ditunggu untuk bertemu segerombolan orang-orang yang menyenangkan, untuk membicarakan hal-hal yang juga sebetulnya mungkin biasa-biasa saja tetapi menyimpan potensi untuk menjadi luar biasa.

My gratitude

Well, saya tidak akan beralasan panjang lebar mengapa saya lama sekali tidak menulis. Nanti saya akan terdengar mirip sekali dengan para blogger musiman (terganggu, karena sungguhlah saya sepertinya punya kecenderungan yang sama, haha!). Tetapi saya memang punya alasan yang cukup kuat tidak menulis (tuh kan, persis ya). Singkat saja, mulai dari pertengahan tahun 2010 dan sepanjang tahun 2011 rasanya sulit untuk menata kepala saya untuk menulis di sela-sela kejadian yang rupanya tanpa sadar mengobrak-abrik kemampuan saya menata isi kepala. Di waktu-waktu itu teman-teman sering kali mendengar saya berulang-ulang berkata “Duh.. rasanya gue nggak punya kepala..” Padahal justru sebenarnya di masa-masa itu saya punya bahan tulisan bertumpah-ruah menunggu untuk diolah (saat ini salah seorang teman baik pasti akan bilang “Dasar procrastinator tingkat akut” (saya janji, nanti lain kali kita akan bicara tentang masalah procrastination panjang lebar). Singkatnya, saya berhutang banyak untuk hal ini yang akan saya penuhi lain waktu.

Sekarang saya sedang ingin bicara tentang tahun ini saja dulu. Saya melepas tahun yang lalu dengan berat, begitu banyak yang terjadi dan melelahkan. Begitu masuk bulan pertama di tahun ini saya herannya merasa sesuatu akan segera terjadi, tidak lama lagi. Persisnya apa saya tidak tahu. Rasanya segala sesuatunya sedang menunggu untuk bergerak. Tenang saja, saya bukan dukun, apalagi ahli pembaca masa depan, saya biasanya cuma sok tahu saja. Tetapi saya tak bisa lepas dari pemahaman itu yang anehnya tak pernah bisa benar-benar saya pahami dengan baik. Saya hanya merasa dan saya percaya, dan lebih jauh lagi saya merasa bahwa saya tidak bisa tidak percaya karena banyak hal baik akan terjadi.

Tentu saja suara-suara kurang ajar di dalam kepala saya yang sempit dan sok tahu ini berusaha memerangi keyakinan saya mati-matian, karena entah bagaimana mereka (ya, suara-suara itu!) merasa tahu persis bahwa pada dasarnya saya ini orang yang cenderung pesimis dan sinis (terkadang cenderung ekstrimis, ini sumbangan seorang teman). Mereka bilang, jangan terlalu berharap, nanti mudah kecewa. Jangan suka berandai-andai, nanti mudah merasa gagal. Untungnya kali ini satu suara jernih yang menjerit cukup lantang di dalam kepala saya bilang “Lo kan tidak sedang berharap apapun, dan memang tidak pernah pandai berandai-andai”. Dan begitulah, si lantangpun menang. Kali ini tanpa perdebatan panjang lebar yang menguras berbatang-batang rokok, menguras waktu teman-teman yang cukup sabar mendengarkan saya, dan menguras persediaaan rasa tabah yang sungguhlah sering saya abuse.

Maka jadilah saya meluncur memasuki tahun dengan menggenggam rasa percaya itu. Hebatnya kali ini saya tak punya rasa tak sabar. Saya menyediakan diri untuk bergulir dan memilih menunggu saja diam-diam, melihat apa saja yang ditawarkan untuk saya. Tahu apa yang saya dapatkan? Coba ya, dibaca daftar di bawah ini ;

1. Kesempatan untuk dikaryakan lebih banyak di kantor. Sepanjang awal tahun ini setiap hari saya dipenuhi dengan mengerjakan banyak hal yang memanglah dari dulu ingin saya ubah tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya karena tidak diberi fungsi dan wewenang untuk itu. Sekarang semuanya jatuh ke tangan saya. Akibatnya saya tidak lagi sempat mengeluhkan masalah ini-itu yang tak kunjung diperbaiki seperti sebelumnya, saya sibuk mengusahakan adanya perubahan. Dan saya senang sekali akhirnya mendapat kesempatan untuk melakukannya. Jadi pada akhirnya saya bukanlah lagi orang yang cuma mengeluhkan banyak hal tapi tak mampu melakukan perubahan. Saking dahsyatnya, saya bahkan dengan girangnya mengajukan diri mengerjakan beberapa hal sekaligus dan bahkan terkadang lupa bahwa orang lain mungkin tidak terlalu senang atau bahkan terganggu dengan antusiasme saya yang terlalu meluap-luap. Beberapa teman bahkan merasa perlu mengingatkan, sebaiknya jangan terlalu antusias, nanti menyinggung yang lain. Ah tapi pada intinya saya senang (bahkan tidak terlalu peduli), saya senang dikaryakan dengan maksimal dan pada akhirnya benar-benar mampu melihat bahwa saya dibutuhkan di kantor ini.

2. Kemampuan untuk menyusun rencana-rencana yang masuk akal. Banyak hal tiba-tiba menjadi jauh lebih jelas buat saya. Ini terjadi tidak hanya untuk urusan kantor, untuk urusan masa depan, urusan mimpi-mimpi, urusan pertemanan, dan bahkan urusan menata hati (belum, saya belum akan cerita untuk yang satu ini, jangan keburu girang duluan!). Banyak hal yang tadinya terlihat cloudy buat saya, sekarang terlihat sangat terang dan jernih. Kemampuan saya memetakan banyak hal terkoreksi. Dan mulailah saya melihat beberapa hal tidak terasa masuk akal, di antaranya misalanya ; membuka toko coklat, ice cream, atau restaurant, pindah ke lain kota, pindah ke luar negeri, berhenti bekerja di kampus, bekerja untuk sebuah hotel berbintang yang punya resort di Maldive, bekerja di Taman Safari, hahaha… Teman-teman saya pun mampu saya lihat lebih jelas dan saya klasifikasikan dengan lebih baik. Saya misalnya berhenti berharap tentang hal-hal tertentu yang sampai kapanpun rasanya akan sulit mereka berikan, dan mulai menerima keterbatasan yang bukan dilandasi oleh rasa tak sayang tetapi lebih pada keterbatasan dalam perannya sebagai teman (saya tahu beberapa orang akan segera menjerit-jerit dalam protesnya, hahaha..).

3. Hari-hari yang rasanya jauh lebih masuk akal untuk dijalani. Buat saya sekarang hari menjadi lebih kaya dengan kesempatan yang tidak terduga, walaupun sebenarnya memang begitulah hakekatnya setiap hari, saya saja yang terlalu tak mampu mellihat. Setiap hari jadi terasa jauh lebih menarik dan penuh dengan kesempatan. Setiap pagi (walaupun masih suka terlambat bangun) saya tidak lagi bangun dalam keadaan seperti habis berantem melawan buaya sepanjang malam, atau seperti habis berenang 800 meter semalaman. Parah ya, saya ini.

4. Teman-teman yang secukupnya mengisi hari saya. Tidak lagi dalam porsi yang overdosis sehingga membuat saya kecanduan. Beberapa orang tetap menjadi candu buat saya, tapi yah sudahlah, keberadaan mereka memang tak terbantahkan, dan kekuatan mereka memanglah sungguh supranatural (Duh.. pasti ada yang senang setengah mati membaca hal ini).

5. Kemandirian, ketaktergantungan, kebebasan. Hahaha… saya tahu persis banyak yang akan teriak-teriak ; “Buset deh, masih kurang tuuuh..!” Tapi yah begitulah, tiga hal itu sekarang menjadi punya makna baru buat saya, well tidak benar-benar baru, tetapi dalam pemaknaan mengalami pergeseran, tak banyak, tapi cukuplah untuk memandangnya tanpa rasa sombong.

6. Kepala yang jauh lebih bersih isinya walaupun masih tetap sama gilanya. Menyenangkan sekali bahwa ternyata waktu juga yang membantu saya membersihkan hal-hal yang kurang perlu bercokol di dalam ruang sempit tak berbatas itu. Oh, jangan khawatir, saya masih sama scattered-nya seperti sebelumnya, masih bisa begitu dis-organized-nya, masih dis-oriented, masih tipikal lunatic yang sama. Bedanya, sekarang saya benar-benar paham bahwa saya ya begitu itu, nggak pake protes lagi.

7. Ruang berpikir yang jauh lebih besar adalah akibat tak langsung dari beberapa nomer di atas, tentunya. Ah menyenangkan sekali memilikinya. Hal ini adalah salah satu hal menyenangkan yang terpaksa saya gunakan untuk hal-hal tidak menyenangkan beberapa waktu yang lalu. Sekarang sudah kembali pada porsi dan hakekatnya.

Pendek kata, tulisan saya ini sudah terlalu panjang, dan punya bahaya mulai membosankan untuk dibaca. Jadi beginilah persisnya yang ingin saya katakan; tahun ini memanglah betul sepertinya akan jadi tahun yang sangat sarat untuk saya, dan saya yakin dengan hal-hal yang baik, menyenangkan, menyehatkan untuk saya. Sepanjang 4 bulan pertama dalam tahun ini saya merasa sangat beruntung, bersyukur mendapati ini semua melalui beberapa persitiwa ;  ada yang datang, ada yang pergi, ada juga yang hanya bergeser. Apapun itu semua artinya, rasanya saya berdiri dalam sikap yang jauh lebih tegak, bersuara jauh lebih lantang dan tegas, memandang jauh lebih positif dari sebelumnya.

Sebenarnya saya mau bilang, semua ini terasa menjadi diri sendiri yang kembali saya temukan, setelah beberapa waktu hilang. Untuk hal itu rasanya saya perlu benar-benar berterima kasih pada orang-orang yang sungguhlah tulus menyayangi saya walaupun saya paham betul mereka tidak selalu mengerti saya ; teman-teman yang walaupun berkerenyit keningnya tetap berusaha mendengarkan saya, yang tersindir, terlukai, terhina (duh.. semoga tak separah ini) tetap bertahan menemani saya, yang terpaksa dibanjiri ocehan saya yang sungguhlah terkadang melantur ke mana-mana menghabiskan waktu, yang bersedia tetap duduk diam walaupun saya berkobar-kobar, berpijar-pijar, berkibar-kibar melampiaskan rasa marah dan kesal, yang tetap berpikir bahwa saya pantas didengarkan saat ocehan saya berisi hal-hal yang sungguhlah fantastis tak masuk akal dan tetap berhasil menemukan hal-hal menarik di dalamnya, yang tetap berpikir saya teman yang cukup menarik walaupun saya sedang keracunan ide-ide gila, yang tak pernah gagal melihat terang saat saya sedang gelap-gelapnya. Karena mereka semua saya selalu berhasil menemukan diri saya kembali. Dan saya pikir sekarang saya harus berhenti karena nanti mereka semua terlanjur muak membaca bagian terakhir yang mencurigakan ini, hahahaha…

P.S. Oh sungguhlah keterlaluan ya, untuk berterima kasih saja saya perlu bersombong-sombong dulu. Sungguhlah kacau lanturan saya malam ini. But guys, as always, you know I LOVE YOU.. *mencoba sok menatap penuh perasaan, dengan mata diredupkan, nada suara disesuaikan* (Gagal yaa..? Hahahaha…)

Penangkap Petir

(earlier published as note on FB,  on Saturday, December 24, 2011 at 8:18am)

Tulisan saya kali ini nadanya masih sama, isinya kurang lebih masih berbau keluhan, umpatan, atau kemarahan. rupa-rupanya saya hanya menulis kalau sedang emosional. Rasa marah terutama sepertinya mampu menjadi mesin utama yang menggerakkan saya untuk menulis, hahaha…. Yah, setidaknya rasa marah saya berubah menjadi sesuatu yang produktiflah.

Tulisan berikut ini dipicu (lagi-lagi) oleh keadaan di jalan. Semakin hari, rupanya semakin banyak orang yang berubah menjadi agresif di jalan raya (mungkin juga termasuk saya). Kalau mau tahu karakter orang sepertinya memang mudah sekali melihatnya dari peri laku mereka ketika berada di jalan, sebagai pengguna jalan. Di bawah ini saya mencantumkan apa-apa saja yang sering kali memacu nafsu saya membunuh (seperti kalau menemukan kecoak) di jalan raya, untuuuung saya cuma bawa mobil yang biasa2 saja, bayangkan kalau saya berkendara dengan tank perang, atau mobil yang dipersenjatai, pasti habis semua orang2 di jalan.

Semoga, semogaaa teman2 saya tidak termasuk kategori pengendara di bawah ini :

1. Pengendara motor yang suka nyalip dari sisi kiri, bahkan saat angkot berhenti (minta dilempar botol aqua), apalagi terus minta jalan ke kanan nyelonong seenaknya.

2. Pengendara motor yang ragu2, tapi jalannya di tengah (minta disambit sandal jepit), yang lebih parah lagi sambil ngobrol atau memegang HP.

3. Pengendara motor yang bunyinya meraung2 tapi jalannya teteeep aja cuma 40 km/jam (minta dicela/ditereakin kenceng2).

4. Pengendara mobil yang merasa mampu multitasking sibuk BBM-an atau nelfon (minta disundut dari belakang) sehingga jadi seperti layangan putus di tengah jalan.

5. Pengendara mobil yang cuma berkendara di hari2 libur, nyetir serba takut kayak nenek2 bawa truk, tegang setengah mati (kalo penakut/peragu di rumah aja nge-teh2).

6. Pengendara mobil yang bawa pacar, sengaja nyetir dilambat2in supaya lebih lama sampai di rumah (pacaran kok di mobil, udah nggak jamaaan..).

7. Pengendara mobil yang suka sok merasa refleksnya bagus banget (padahal megang bolpen aja sering jatuh) sehingga nyetir seperti pembalap di sirkuit (padahal liat sirkuit aja cuma di tv).

8. Pengendara motor yang merasa bangga banget kalau memboncengi cewek cantik (kasian, mungkin karena jarang ya..) sehingga berkendara seolah2 seluruh dunia harus tau.

9. Pengendara motor yang sudahlah nggak pake helm, sibuk bener2in rambut sambil berkendara (situ berharap capturing scene seperti di film2 action?? ).

10. Pengendara mobil yang sambil merokok kacanya dibuka setengah, pake kaca mata item (padahal udah sore), supaya keliatan cool, jalannya setengah dilambat2in (hadeeeh.. it’s not Hollywood!).

11. Penyebrang jalan yang pake earphone dan bergaya sok cool kayak nggak takut (halaaah.. kesundut mobil gara2 kurang dengar juga sewot teriak2 kayak ibu2 kecopetan).

12. Penyebrang jalan yang menyebrang sambil nelfon/sms-an/bbm-an (kayak kurang2 waktu!).

13. Penyebrang jalan yang plin-plan, maju-enggak-maju-enggak-maju-enggak, bikin orang bingung (makanya sebelum nyebrang cap-cip-cup dulu deeh).

14. Penyebrang yang sibuk ngobrol sama gerombolannya sambil menyebrang (berharap dapet scene keren, ngobrol ketawa2 dengan rambut ketiup2 angin, seperti scene2 film ABG?).

Semoga kita semua tidak termasuk golongan orang2 seperti di atas. Semoga kita semua dijauhkan dari hal2 seperti di atas. Semoga semua selamat di jalan, tidak merugikan orang lain dan menjadi penyebab kecelakaan bagi sesama pengguna jalan. Aaaammiiiin….

P.S. Kalau untuk angkot, bus dan kendaraan umum lainnya ya sudahlah, saya tak sanggup berkomentar, semoga mereka semua (sebagai golongan yang sesat) senantiasa diselamatkaaaan..

P.P.S. Kenapa judul tulisannya Penangkap Petir? Karena instead of menjadi penangkal petir mereka memilih menjadi Penangkap Petir yang siap untuk disambar2 di jalan raya, mengarung bahaya, memancing celaka.

Sup Tahu Bakso

Bahan-bahan :
- tepung ayam goreng (merek apa saja, Kobe, misalnya)
- bawang merah
- bawang putih
- bawang bombay
- daun sop
- daging cincang
- garam, merica

- tahu putih, goreng sampai matang
- bakso siap pakai
- baby bok choy

Bawang merah dan daun sup dicincang halus, campur dengan daging cincang dan tepung Kobe. Untuk 8 sendok makan daging cincang gunakan kurang lebih 4 sendok makan tepung Kobe. Beri sedikit air, masukkan garam dan merica. Aduk rata, buat bola-bola sebesar bakso dengan bantuan sendok, goreng dalam minyak sampai kecoklatan, tiriskan.

Didihkan air, masukkan bakso siap pakai, masukkan bawang putih dan bawang bombay yang sudah dicincang. Rebus semua hingga matang. Masukkan baby bok choy yang sudah dipotong-potong, tambahkan garam dan merica. Atur potongan tahu goreng dan bakso goreng di dalam mangkuk, tuangkan rebusan bakso dan baby bok choy.

 

Cumi asem-asem

Bahan-bahan :
- 4 cumi ukuran sedang (kira-kira panjangnya setelapak tangan), iris dan bumbui dengan perasan jeruk nipis dan garam (air rendaman jangan dibuang)
- setengah siung bawang bombay
- 2 bawang putih
- 3 cabe merah
- 3 cabe rawit (boleh merah/hijau)
- 1 tomat merah
- 4 tomat hijau kecil
- 2 lembar daun salam
- garam, 1 sendok makan kecap manis, minyak untuk menumis

Cara memasak :
- Iris semua jenis bawang, dan cabe. Panaskan 3 sendok makan minyak goreng, masukkan bawang dan cabe. Tambahkan 1 tomat merah yang sudah diiris dadu. Masukkan daun salam. Tumis sampai harum.
- Masukkan cumi yang sudah diiris-iris, aduk-aduk sampai cumi mengeluarkan kaldunya. Tambahkan 1 sendok makan kecap manis, dan tuangkan air rendaman cumi tadi.
- Masukkan tomat hijau yang sudah dipotong-potong. Biarkan matang selama kurang lebih 3 menit dan kuah mengental.

TIPS :
- Buang tinta cumi, kalau warna masakannya hitam kurang cantik.
- Jangan lupa membuang tulangan yang ada di punggung cumi sebelum mengiris-iris cumi. Saya juga membuang isi bagian kepala yang keras, dan juga matanya (takut makan sambil dipelototin).
- Semakin lama cumi dimasak, maka akan jadi semakin keras, jangan berlama-lama memasaknya!
- Sajikan dengan sayuran rebus (bisa apa saja) dan dengan nasi putih hangat (jangan banyak-banyak, cukup 4 sendok makan saja!)
- Makannya pake kerupuk lebih seru lagi..!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.